Kisah Dari Garis Depan




Waktu itu pukul 00.07 pagi, tanggal 5 November 2010. Aku terbangun oleh suara sms masuk di blackberryku. Ternyata Ari Retnowati, teman kuliahku di IPB dulu yang sekarang tinggal di Klaten. “To, merapi kenapa lagi? Suara gemuruh gludag gludug-e kedengeran kuenceng buanget dari tempat gue sekarang. Kemarin-kemarin gak pernah kedengeran. Hopefully everything gonna be ok”.

Suara guruh merapi memang luar biasa malam itu. Lebih keras dari hari-hari sebelumnya. Bayangkan kita sedang berdiri di pinggir jalan, lalu ada serombongan truk tronton lewat. Sekeras itulah kira-kira gemuruhnya. Padahal rumahku lumayan jauh dari puncak Merapi, sekitar 17-an kilometer.

“Mas, gimana nih? Gak papa ya?”. Ternyata suara sms itu juga membangunkan istriku. Wajahnya tampak sedikit cemas. Tak heran. Aku pun cemas. Siapa yang tidak cemas mendengar suara gemuruh seperti itu. Aku tersenyum, berusaha menampakkan ekspresi wajah setenang mungkin. “Insya Allah gak papa yang. Kan perluasan radius bahayanya hanya sampai 15 km. Lagipula pemerintah bikin tenda pengungsian di lapangan Pojok kan? Gak mungkin pemerintah bikin tempat pengungsian di daerah bahaya”. Sehari sebelumnya, Merapi memuntahkan awan panas hingga mencapai wilayah timur laut Merapi Golf. Peristiwa itu membuat radius bahaya yang sebelumnya hanya 10 km diperluas hingga 15 km. Pengungsi di Oasis Disaster yang hanya berjarak sekitar 10 km dari puncak dievakuasi ke lapangan Pojok yang berjarak sekitar 200 meter sebelah utara rumah kami.

Blacberryku berbunyi lagi, kali ini sms dari mas Wandi, kepanduan DPC Pakem yang sejak letusan pertama tanggal 26 Oktober bersiaga di pengungsian Hargobinangun. “Info: pengungsi Hargo dipindahkan malam ini ke Maguwo semua”. Jantungku berdegup kencang. Kalau pengungsian Hargobinangun dievakuasi, artinya ini benar-benar serius. Kubalas sms dari beliau. “Bagaimana dengan pengungsi di lapangan Pojok? Apa sudah ada perintah evakuasi?”. Kalau lapangan Pojok dievakuasi, berarti rumah kami pun tidak aman. Tak lama datang balasan dari beliau “sementara masih tetap di Pojok”.

Aku agak lega, tapi tetap saja kuminta istriku untuk mempersiapkan traveler bag. “Masukkan saja beberapa lembar pakaian dan semua buku rekening kita, juga kas OmahTernak yang ada di rumah. Hanya untuk jaga-jaga. Siapkan juga kandang kecil Choky”. Choky adalah kucing Himalaya jantan peliharaan kami. Tidak mungkin rasanya meninggalkan dia di rumah bila perintah evakuasi keluar.

Ketika sedang membantu istriku mempersiapkan semua, blackberryku kembali berbunyi. Kali ini telepon dari pak Indra, ketua PKS DPC Pakem. “Assalamu’alaikum” sapaku. “Wa’alaikumsalam” jawab beliau. “Akhi, bisa minta tolong jemput ane? Ane mau evakuasi istri dan anak ke rumah antum saja”. Aku langsung berganti pakaian. Rumah pak Indra berada di Kalireso, sekitar 15-16 km dari puncak Merapi, dan tepat berada di pinggir Kali Boyong. Bila Merapi meletus dan awan panas masuk ke Kali Boyong, maka bisa dipastikan rumah beliau akan terkena.

Aku mengambil kunci mobil avanza yang disediakan DPD untuk antar-jemput logistik kemudian berpamitan pada istriku. Saat keluar dari kamar, kulihat semua pengungsi yang tidur di ruang tengah rumah kami sudah terbangun semua. Ada yang sedang tilawah, ada yang sedang menenangkan anaknya, ada pula yang sedang mencoba mengontak kerabatnya yang masih tinggal di atas.

Baru saja dua langkah aku berjalan meninggalkan kamar, tiba-tiba suara gemuruh itu berhenti beberapa detik dan lalu….. DUAAAAR…. Suara letusan yang keras sekali. Kami semua terkejut. Ada yang beristighfar, ada pula yang memekikkan takbir. “Astaghfirullah mas! Apa itu??”. Istriku menarik jilbab kaos terdekat lalu berlari ke arahku. DUUAAARRR…. Suara letusan kedua terdengar. Beberapa detik kemudian….TAK…TAK…TAK…. terdengar suara keras di atap. Aku dan beberapa bapak-bapak berlari ke arah teras. “Astaghfirullah….Subhanallah…” gumamku pelan. Seumur hidupku, aku hanya pernah melihat hujan air. Lalu beberapa bulan yang lalu Allah menunjukkan kepadaku hujan es. Pada letusan tanggal 30 Oktober aku diperlihatkan hujan abu. Dan kini tubuhku gemetar, jantungku terasa jatuh ke bawah….hujan batu!

Kendaraan bermotor mulai dari mobil, truk, dan kendaraan roda dua mulai melaju kencang melewati rumah kami menuju arah selatan. “Pengungsi dari lapangan Pojok lari!” pikirku dalam hati. Di sebelah, satu-satunya tetanggaku, pak Nono—seorang TNI—yang ditugaskan di Hargobinangun berteriak kepadaku. “Mas! Di sini gak aman!”. Beliau lalu ikut lari dengan motor bersama keluarganya.

Aku segera masuk kembali ke dalam rumah, menutup pintu agar abu tidak masuk ke dalam. Kaum ibu di dalam rumah mulai ribut. “Bagaimana ini akh?” Tanya seorang bapak. Aku kemudian berdiskusi dengan akh Herwanto dan akh Efen. Kami sepakat, menyelamatkan diri sekarang justru lebih berbahaya. Di depan rumah kami truk-truk besar berjalan kencang melarikan diri. Mobil hanya ada satu, sedang menyelamatkan diri dengan motor berisiko dilindas truk atau celaka karena menghirup abu merapi.

Kami sepakat prioritas pertama adalah menjemput pak Indra dan keluarganya di Kalireso, walau itu berarti melawan arus pengungsi dan relawan yang melarikan diri. Tapi itu resiko yang harus kami ambil. No one left behind! Demikian pikirku.

Aku berpamitan kepada istriku, menenangkannya, lalu berlari ke arah mobil avanza yang diparkir di pagar masuk rumah ditemani akh Efen. “Awas! Pakai helm akh!” teriak pak Herwanto. Ups, betul. Hujan batu sebesar kelereng masih berlangsung. Safety first. Aku dan akh Efen mengambil helm pengungsi yang disimpan di teras lalu berlari sekencang mungkin ke dalam mobil. Segera kunyalakan mesin mobil, dan kusingkirkan abu vulkanik yang menempel di kaca depan dengan wiper mobil.

Di jalan, tidak ada yang bisa kulihat selain benda yang berjarak 3 meter di depanku. Hujan abu dan kerikil begitu tebalnya. Belum lagi truk-truk dari tenda pengungsian yang berjalan cepat melawan arahku. Mungkin karena panik, truk-truk diesel sebesar itu berjalan di tengah jalan yang tidak begitu lebar itu. Beberapa kali aku harus membanting stir karena tepat berpapasan dengan mereka, bahkan sampai hampir terperosok ke sawah karena berjalan terlalu di pinggir. Aku sudah tidak peduli dengan klakson dan makian dari truk-truk itu. Yang ada di otakku adalah secepatnya sampai ke Kalireso dengan selamat.

Pasti hanya karena pertolongan Allah sajalah, aku bisa sampai ke Kalireso dengan jarak pandang tidak sampai 3 meter sambil melawan arus evakuasi tanpa salah belok atau tertabrak truk. Aku yakin para supir truk yang panik itu tidak mungkin bisa melihatku, walau cuma cahaya lampu mobilku karena akupun sama sekali tidak bisa melihat truk mereka, ataupun cahaya lampu mereka.

Sesampai di Kalireso, kujalankan mobil dengan sangat perlahan. Rumah beliau berada tepat di pinggir jalan tapi, Masya Allah…bahkan aku tidak tahu apa aku masih berada di atas jalan. Hujan abu makin deras, kini aku buta total. Sekali lagi, hanya berkat pertolongan dari Allah sajalah aku bisa berhenti tepat di depan rumah beliau. Bahkan aku bisa memposisikan agar ekor mobilku tepat di samping pintu masuk. Bila sampai sekarang orang-orang bertanya kepadaku bagaimana caraku memposisikan mobil sedemikian rupa sehingga lebih memudahkan evakuasi, aku menjawab tidak tahu. Aku hanya memutar mobilku dalam kebutaan, dan memundurkannya dan entah bagaimana tepat di samping pintu. Mungkin beberapa orang menyebutnya sebagai ‘kebetulan’. Tapi aku sendiri yakin bahwa ini pertolongan dari Allah.

Saat turun dari mobil, baru kusadari warga Kalireso sudah berkumpul semua di dalam mushalla. Di pintu rumah, pak Indra sudah menunggu beserta istri dan anaknya yang baru berumur sekitar 2 minggu. Di samping mushalla, ada sebuah truk yang siap mengevakuasi warga di sana. Belakangan aku baru tahu, bahwa di dalam truk tersebut sudah terdapat 5 jenazah korban letusan Merapi.

Setelah kami semua masuk ke dalam mobil, aku kembali menyalakan mesin dan menjalankan kendaraanku perlahan-lahan. Keluar dari Kalireso, hujan abu sudah mulai mereda walau masih deras. Jalan utama yang tadi disesaki oleh mobil dan truk yang melarikan diri kini telah kosong melompong. Jalan Turi yang biasanya ramai karena merupakan jalur wisata, kini seperti kota mati.

Sesampai di rumahku, hujan abu sudah makin menipis. Kini aku bisa melihat sekitar dengan jelas walau abu masih terasa merasuk ke pernafasanku padahal aku sudah mengenakan masker. Orang-orang di dalam rumah sudah mulai tenang, walau anak-anak masih menangis ketakutan. Mbak Riza, istri pak Indra beserta anaknya masuk ke kamar bersama istriku. Aku, pak Indra, pak Efen, dan pak Herwanto berkumpul membicarakan langkah selanjutnya. Kami sepakat, bahwa pada titik tertentu kami harus keluar dari tempat ini dikarenakan abu vulkanik halus mulai masuk ke dalam rumah, dan ini tidak baik untuk kesehatan anak-anak terutama balita. Namun kami khawatir dengan kondisi jalan menuju ke selatan yang masih sesak dengan pengungsi yang melarikan diri. Di sini aku menyadari bahwa dalam kondisi darurat seperti ini diperlukan ketenangan untuk berpikir jernih. Bayangkan bila kami ikut panik berlarian ke bawah, mungkin akibatnya akan lebih fatal. Untuk saat ini, kami memutuskan untuk berjaga bergiliran, sementara sisanya istirahat. Kesempatan ini aku gunakan untuk mengontak akh Wicak, temanku di Bandung untuk mencari kabar terbaru. Kami tidak bisa mengakses media karena listrik dimatikan.

Kira-kira pukul tiga pagi, rumahku diketuk. Ternyata seorang kepanduan dari DPD Sleman datang untuk memeriksa kondisi kami. Beliau menyarankan kami untuk evakuasi sekarang, sambil meyakinkan bahwa jalan Kaliurang telah lengang sehingga aman untuk evakuasi. Dua buah mobil dari DPD juga telah berangkat menuju rumah untuk membantu proses evakuasi.

Pak Indra memintaku untuk berangkat terlebih dahulu untuk mengangkut ibu-ibu yang mempunyai anak-anak balita. Tujuannya adalah Ponpes Darush Shalihat. Terus terang aku merasa agak keberatan. Aku berat meninggalkan istriku di rumah dalam kondisi seperti ini. Apalagi Merapi sudah mulai kembali bergemuruh. Tapi aku tahu aku harus menanggalkan egoku dalam kondisi seperti ini. Aku tahu, mengevakuasi anak-anak balita terlebih dahulu adalah keputusan yang tepat karena kondisi udara saat itu tidak baik untuk mereka. Dan anak balita tidak mungkin dievakuasi tanpa ibu mereka. Sehingga apa boleh buat, istriku harus menunggu untuk dievakuasi.

Perasaanku sangat berat ketika berpamitan dengan istriku. “Hati-hati ya mas” ucapnya sambil tersenyum. Aku hanya mengangguk pelan. Ku tatap wajahnya seakan-akan itu terakhir kalinya aku bisa menatap wajahnya. Ketika berjalan menuju mobil, kutepuk bahu pak Indra. “Titip istri ane ya akh”. Aku berusaha tenang namun ternyata suaraku tetap bergetar. “Ya akh, Insya Allah” jawab beliau.

Aku menjalankan mobilku perlahan, berusaha tidak membuat anak-anak kecil ini makin ketakutan. Di sebelahku, seorang ummahat terisak-isak sepanjang perjalanan. Beliau istri dari pak Herwanto. Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu di dalam mobil untuk menceriakan suasana atau sekedar mencairkan ketegangan. Tapi aku sendiri sedang dalam keadaan kalut. Senyum istriku terus terbayang sepanjang perjalanan. Akhirnya aku hanya diam saja. Aku hanya berusaha secepat mungkin dan seaman mungkin sampai di ponpes Darush Shalihat, lalu kembali ke Pakem untuk menjemput istriku.

Sesampai di ponpes, aku segera menghubungi pak Indra. Ternyata beliau meminta aku untuk menunggu di sana. Tentu saja aku protes. Tapi beliau segera memotong “istri antum Insya Allah aman akh, beliau naik di mobil kedua di belakang antum”. Hatiku agak tenang, walau aku belum lega sebelum melihat istriku lagi. Sehingga walau aku diminta untuk segera ke kantor PKS DPD Sleman, aku memutuskan untuk menunggu sebentar lagi. Baru setelah bertemu istriku aku berangkat menuju kantor DPD.

Aku tiba di DPD tepat saat adzan subuh. Di sana suasana cukup hiruk-pikuk. Barulah ketika masuk ke dalam, aku melihat betapa besar kejadian dini hari tadi di televisi. Di kabarkan 50 orang luka bakar di Kecamatan Cangkringan. Tetapi belum diketahui ada atau tidaknya korban tewas. Dari televisi juga aku mengetahui radius bahaya diperluas hingga 20 km. Fuuuhhh…… there goes my neighborhood… pikirku dalam hati. Rumahku resmi masuk wilayah bahaya II.

Di DPD aku bertemu dengan ustadz Ryo Rasyid, yang memiliki kelompok binaan Ternak Domba Master di Cangkringan. Beliau menanyakan kondisiku dan teman-teman Pakem. Belakangan baru aku mengetahui bahwa sebagian kandang kelompoknya habis disapu awan panas. Saat itu aku tidak menyadarinya, karena kondisi beliau saat itu tenang sekali.

Tak lama, aku juga mendapatkan telepon dari ustadz Nashir Harist, pimpinan ponpes Al-Hadi. Beliau menanyakan kondisiku dan kondisi kandangku. Aku menjawab: “ane Alhamdulillah baik-baik saja ustadz. Kalau kandang….ane pasrahkan saja pada Allah…ane gak tahu”. Aku benar-benar belum tahu nasib kandangku beserta karyawan yang tidur di sana. Mereka belum bisa ku hubungi.

Setelah shalat subuh, aku memilih kembali ke mobil. Aku lelah sekali. Di DPD sudah tidak ada tempat untuk sekedar duduk. Banyak sekali pengungsi di sana. Aku ingin tidur sebentar di dalam mobil. Ini pasti akan menjadi hari yang sangat panjang dan melelahkan…Sebelum tidur, kusempatkan untuk mengirimkan sms kepada istriku. “Whatever happened, I will always love you”.

Pagi jam setengah 8, aku kembali bertemu dengan pak Indra di DPD. Sebelumnya aku sempat mengantarkan istri ke rumah orang tuaku. Tapi karena ia ingin kembali lagi ke posko, akhirnya kami hanya meletakkan barang-barang yang sempat kami bawa di rumah orang tua.

Pagi itu aku, istriku dan pak Indra kembali ke rumahku untuk mengambil barang teman-teman serta logistik posko yang masih tertinggal. Tetapi sebelumnya aku sempatkan untuk mampir terlebih dahulu ke kandangku di dusun Penen. Selama di perjalanan, baru aku mendengar kisah heroik teman-teman DPC Cangkringan yang mengevakuasi warga sambil dikejar oleh lahar panas. Bahkan ada satu kelompok yang terpaksa memutar ke arah Prambanan karena jalur evakuasinya terpotong oleh lahar panas. Ternyata, ketika di rumahku hujan batu dan pasir, mereka mengalami hujan api. Dan ketika aku menembus kegelapan malam menuju Kalireso, mereka sedang berjibaku menyelamatkan warga sambil dikejar lahar serta awan panas. Beberapa hari kemudian, aku membaca status facebook ketua DPC Cangkringan kurang lebih sebagai berikut: “Awan panas sudah ada alamatnya akan ke mana. Demikian juga kematian itu pasti akan datang. Tinggal bagaimana kita mengatur seni kematian itu, mati dalam kemaksiatan atau mati dalam kemanfaatan kepada orang lain”.

Setibanya di Penen, kudapati kandangku sudah kosong melompong. Tampaknya anak kandang kami sudah mengungsi entah kemana. Aku masih tidak bisa menghubungi mereka. Seluruh rumput untuk pakan kami sudah tertutup abu. Tapi Alhamdulillah, kandang domba kami bersih. Memang jalan tempat domba masuk ke kandang putih tertutup abu semua. Tetapi bagian dalam kandang dan tempat pakan, bersih. Domba kami masih dilindungi Allah. Aku sedikit lega, walau dalam hati mengkhawatirkan stok hijauan kami yang terselimuti debu vulkanik.

Beberapa menit di kandang, kami segera meluncur ke rumahku. Kupakai kesempatan itu untuk menyelamatkan CPU, mengambil lagi beberapa helai baju, dan menyelamatkan beberapa surat penting yang tertinggal dini hari tadi. Suasana masih mencekam karena guruh merapi masih terdengar. Setelah itu kami sempatkan mampir ke Kalireso untuk mengambil beberapa keperluan pak Indra. Di sana, gemuruh jauh lebih keras lagi.

Siang hari kami gunakan untuk istirahat sekaligus shalat Jumat. Sorenya, aku diminta untuk mengevakuasi teman-teman kader yang masih tertinggal di atas. Aku berangkat bersama pak Herwanto dan pak Ahmad. Cukup sulit untuk mencapai ke atas, karena jalan-jalan utama sudah diblokir oleh polisi dan relawan. Tapi biasanya tiga kata sakti ini cukup membuat jalan terbuka untuk kami: “relawan PKS, evakuasi”. Apalagi kami bertiga memakai kaos kepanduan.

Selama berputar-putar melacak lokasi teman-teman dan keluarga kader di atas, keadaan sangat mencekam. Gemuruh merapi jauh lebih keras dari tadi siang. Kondisi sangat gelap, padahal waktu masih menunjukkan pukul 14.30. Terus terang, jadi aku teringat sehari sebelum letusan ketika aku, pak Herwanto dan pak Ahmad beserta beberapa kepanduan DPD naik ke dusun Boyong yang berjarak 8 km dari puncak untuk membongkar tenda pleton (saat itu radius bahaya sudah dinaikkan menjadi 15 km). Saat melepas tenda pleton itu, setiap ada guruh aku selalu mendongak ke arah puncak. Menebak-nebak apakah itu suara gemuruh geledek dari awan hujan, atau suara gemuruh merapi yang memuntahkan awan panas. Kini, kondisi dusun Boyong yang berjarak 8 km dari puncak itu sama dengan kondisi daerah yang sedang aku lewati, yang berjarak sekitar 15 km dari puncak.

Jalur evakuasi yang kutempuh cukup berputar-putar karena beberapa akses jalan tertutup oleh batang pohon atau bambu yang rubuh. Di sebuah dusun kudapati sebuah pohon beringin yang sangat besar tumbang karena tidak kuat menahan beban abu dan pasir di dahannya. Pikirku saat itu adalah “mudah-mudahan rumahku tidak bernasib seperti ini”, mengingat rumahku juga terkena hujan pasir dan kerikil.

Ketika memasuki pertigaan Balong dan akan menyeberangi jembatan, ada sekelompok linmas menghadang kami. Seperti biasa, kubuka jendela mobil sambil berkata “relawan PKS, mau evakuasi”. Tapi kali ini kata sakti kami tidak berhasil. “Banjir mas, gak bisa lewat!” demikian teriak salah seorang linmas. Aku memajukan mobilku sekitar 10 meter ke depan. Baru aku sadar apa maksud linmas tersebut. Jembatan yang akan aku lewati terbenam oleh aliran deras lahar dingin. Deras sekali. Masya Allah….pikirku. Sungai ini berhulu di Kali Boyong, dan berhilir di Kali Code, tempat tinggal teman-teman ‘pekanan’-ku. Aku tidak ingat apakah hari itu hujan deras, tapi aku ingat sekali aliran lahar dingin tersebut, dengan material vulkanik berupa batu besar-besar. Aku berputar sambil berdo’a dalam hati “Allah, lindungilah saudara-saudaraku di bawah sana”.

Malam itu, kami semua dari PKS DPC Pakem sepakat bahwa itulah tidur ternikmat yang pernah kami rasakan. Tanpa ada rasa takut, tanpa ada gangguan guruh dan hujan abu. Malam itu, kami beristirahat dengan tenang. Namun kami sadar, seperti pesan salah satu ustadz kami: “Bencana ini nampaknya akan panjang. Oleh karena itu kita juga harus menjaga nafas kita agar tetap panjang. Karena kita tidak hanya dibutuhkan saat tanggap bencana, melainkan juga saat post-disaster”.


Merapi pertama kali meletus pada tanggal 26 Oktober 2010 pukul lima sore lewat, tepat saat kami baru saja selesai rapat koordinasi persiapan bencana. Sampai kisah ini kutulis pada tanggal 11 November 2010, masih belum ada tanda-tanda kapan bencana ini akan berakhir.

Kisah ini kutulis sebagai jawaban atas keinginan teman-teman yang memintaku untuk menceritakan pengalaman kami saat letusan besar pada tanggal 5 November 2010 itu terjadi. Kisah ini kutulis, untuk menceritakan mereka, manusia-manusia berani yang bekerja demi sesama walau tanpa kemewahan sorot kamera. Kisah ini kuberi judul “Kisah dari Garis Depan” karena menceritakan tentang pengalaman kami yang berada pada garis terdepan saat letusan terbesar gunung Merapi dalam 100 tahun terakhir ini terjadi.


Kisah ini kutulis atas rasa bernama cinta. Dalam Dekapan ukhuwah, cerita ini mengalir. Seperti buku yang kubaca saat Ramadhan yang lalu, karya Salim A. Fillah.



Muhammad Subroto,

yang masih belajar mencurahkan isi hatinya dalam bentuk tulisan



Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html

Mutiara-Mutiara Dari Samudra

Ini.. adalah mutiara-mutiara, yang kukumpulkan dari kedalaman samudra grup kami. Masing-masing, dengan kilauannya tersendiri. Indah..

Silahkan, kalungkan di ruang benakmu. Gelangkan pada tangan kemaknaanmu. Serta sematkan sebagai cincin, pada jemari hikmahmu.

*****@*****

ketika kau datang,
cahaya bintang begitu cemerlang
kau hilang aku begitu merindukan...
segenap jiwa pun tersadar...
cinta bukan terbunuh olehku,
namun ia telah hancur olehmu...

by Dany Kindaichi Nagareboshi)

namun ia tlah hancur olehmu
membuatku menjadi pesakitan
dirudung gejokan hempaskan tawa
diamkan kebisingan dalam alunan sepi
kaupun hilang disaat batin butuh keberadaan..


(by Geny Raia)

aku hanya mampu menulis dalam hati
aku tak sanggup menorehkan penaku di atas kertas.
penaku tak sanggup berbagi
penaku adalah hatiku yg hanya mampu menoreh perasaanku yg sedih ataupun senang
oh penaku kapan kau bisa berbagi dgn yg lain???

ku tunggu nyalimu


by Budi Setya Ayu)

dalam lelapmu sayang,kutemukan kebahagiaan...
damai dalam kepolosan..
meski semua tak selalu seperti yg kau ingin.
tapi manisku,hidup memang seperti itu...
harapku hnyalah suatu saat kau akan kuat dan tegar
tapi sementara itu,tetaplah ceria sayangku
karena bahagiamulah yg terpenting bagiku

putri kecilku....


by Syahidah Nurjannah)

hmm... nulis??

nulis itu perlu ilmu...!!!
nulis itu perlu ilmu...!!!
nulis itu perlu ilmu...!!!


by Hanya Manusia Biasa)

izinkanlah aku untuk bertanya wahai penghuni bumi..
salahkah jika aku merindukan seseorang?
kutitipkan rinduku pada angin
melambai lembut dipelupuk nurani..
menyampaikan harapan.. membangun asa..
namun apa yang kudapat..?
sebuah penantian yang begitu panjang...
hingga aku terduduk lesu..
berkata bahwa 'rinduku ini sia-sia...
setelah apa yang kurasa, masihkah boleh aku merindu? wahai penghuni bumi...


by Tri Wahyuni)

Ya Rabb
Kepasrahanku hanya padaMU
Penghambaanku hanya untukMU
Dan aku berharap,rasa Cinta & Rindu ini juga ku tujukan padaMU
Jangan KAU beri Ruang terhadap Cinta yang hanya Menipu
Jangan KAU beri Kesempatan pada Rindu yang hanya akan menyiksa Qolbu karena DuniaMU
Aku menghiba Lautan KasihMU
Bentangkan Samudra CintaMU padaku
ENGKAUlah Muara Keluh-Kesah & Bahagiaku


by Tiana Umar)

Penulis Hebat, Motivator Dahsyat

“Syarat untuk bisa menulis itu cuma satu ...,”

masih menancap kuat di korteks serebral otakku ucapan Baban Sarbana

suatu sore di Sekolah Alam Bogor nan asri,

“yaitu SENANG BERBAGI!



Ucapan yang sangat membahagiakanku, menguatkan keyakinanku bahwa menulis itu mudah, menulis itu ibadah dan sudah seharusnyalah sebanyak mungkin orang di dunia digairahkan untuk senang menulis.



Pulang dari sana, langsung kujelajahi belantara internet untuk menemukan pelatihan penulisan on line dan berjumpalah aku secara virtual dengan Bang Jonru sang mentor yang semangatnya menyala-nyala, yang gairah menulisnya membias dari tiap kata yang ditulisnya.

Oya, perkenalkan. Namaku Galuh Chrysanti. Usiaku 34, ibu rumah tangga dengan dua balita. Senang menulis sejak kecil dan juga sangat menikmati memotivasi orang lain ke arah kebaikan. Ketika ternyata dua hobiku ini bisa disatukan, waah, senangnya bukan kepalang.

Betapa besar hutang budiku pada mereka yang tulisannya kubaca, yang menaikkan semangatku di kala redup, menginspirasi ketika minim ide, membuatku tertawa, terharu, membuatku belajar tentang kehidupan hanya dengan duduk membaca, dan diatas segalanya, semakin mengenal Dia yang mencipta.



Kubayangkan, betapa besar amal sholeh yang mereka terima, amal sholeh yang berumur panjang karena pahalanya insya Allah kan terus mengalir selama karya mereka dibaca dan diamalkan. Uugh, ibarat MLM, berarti yang juga berhak mendapat kebaikan dari amal para penulis itu adalah para motivator di balik para penulis itu dong, ya?



Para motivator inilah yang awalnya membuat kebaikan ini dapat terus disebarkan. Melambungkan keyakinan yang selama ini mengakar kokoh di hatiku, bahwa kebaikan itu harus selalu disebarkan, diteruskan, dibagi, dialirkan tiada henti.



Bahwa ‘kalau cuma’ bisa menulis itu mudah dan bahwa semua orang bisa menulis sama sekali bukan omong kosong, aku sendiri sudah membuktikannya. Ceritanya begini ....



Bayangkanlah sebuah sekolah taman kanak-kanak nun jauh di Kota Minyak Balikpapan. Jabalussalam namanya. Lebih tepat sebetulnya disebut ‘syurga’nya anak-anak. Karena sungguh, cita-cita sekolah itu adalah membuat anak-anak bergembira ketika belajar, berbahagia ketika mengenal Rabb mereka.



Guru-gurunya ... hmm, hatiku sungguh menghangat ketika mengingat guru-gurunya. Para guru tersebut insya Allah sangat meyakini bahwa segala aktivitas di sekolah itu adalah sajadah panjang mereka yang berujung pada perjumpaan nan indah dengan Allah swt kelak.

Suasananya sangat ceria. Anak-anak yang menangis-mungkin karena malu atau karena rindu pada orangtua mereka yang tidak boleh menunggui- akan dihadiahi belaian cinta dan pelukan hangat oleh guru-guru penyayang.



Anak-anak diajak bermain, bersenang-senang di alam terbuka, tadabur, berzikir, mengenal Allah dengan segala kebesaranNya. Oooh, alangkah sayangnya, alangkah sayangnya jika ini semua tidak terdokumentasikan. Kebahagiaan ini harus dibagikan, keindahan ini harus diceritakan pada dunia.



Aku yang waktu itu diamanahi sebagai kepala sekolah di sana pun tak tahan untuk tidak menyemangati para guru agar segera menuliskan pengalaman mereka dan kemudian mengumpulkannya menjadi sebuah buku.



Oya, latar belakang pendidikan sama sekali bukan alasan untuk merasa tidak mampu menulis. Waktu itu dari kami bertigabelas, hanya tiga yang sarjana. Kemampuan awal menulis itu seperti kata Bang Jonru, lebih merupakan “default factory setting” kita. Untuk lebih jelasnya, coba klik di http://www.penulishebat.com/ .



Aku sendiri sangat yakin pada potensi para guru, apalagi yang akan mereka tulis adalah pengalaman sendiri. Kalau saja hati mereka bisa memegang pena dan menulis sendiri, tentulah sudah berlembar-lembar tulisan yang mereka hasilkan karena melimpahnya kekayaan pengalaman batin mereka dalam mengajar.



Hasilnya, terkumpullah 43 tulisan hanya dalam waktu satu minggu. Bahkan semangat menulis ini juga berkobar dikalangan orangtua murid yang akhirnya ikut menyumbang 14 tulisan. Luar biasa sekali bukan kekuatan sebuah keyakinan? . Satu bulan kemudian, “Pelangi di Jabalussalam” pun naik cetak 400 eksemplar dengan menuai respon pembaca yang menggembirakan hati.



Kini –setahun lebih berselang—dengan haru kubaca tulisan teman-teman guru di Balikpapan lewat status maupun notes facebook mereka yang semakin lama semakin indah, semakin kaya, semakin bermakna.



Sebelum menggagas buku “Pelangi di Jabalussalam”, bersama teman-teman guru di beberapa sekolah di Balikpapan aku ikut mendirikan KPBA Cinta Pena (Kelompok Pecinta Buku dan Anak Cinta Pena). Kami mengadakan pertemuan satu bulan sekali untuk saling memotivasi menulis, membedah buku, mengadakan workshop penulisan, dan lain-lain. Sayang sekali mungkin karena kurang diprioritaskan, kegiatan positif ini sekarang mati suri. Padahal manfaatnya sangat banyak. Aah, betapa indahnya jika terbentuk pula KPBA-KPBA di daerah lain untuk memfasilitasi peningkatan kemampuan membaca dan menulis para guru di seantero penjuru nusantara.



Kalau boleh, ingin kutitip pesan untuk saudaraku para pahlawan tanpa tanda jasa ini. Jika menulis adalah sebuah kewajiban dari Ilahi, maka para gurulah seharusnya yang pertama mengemban amanat ini. Para guru adalah kunci utama perubahan kebaikan di suatu negeri. Menulis akan menyebarkan kebaikan-kebaikan yang mereka miliki ke seluruh pelosok negeri.



Menulis itu mencerdaskan, menajamkan hati, meningkatkan kepercayaan diri. Dan percayalah, menulis itu mudah. Kuncinya seperti kata Kang Baban Sarbana cuma satu : senang berbagi. Dan bukankah kunci sederhana ini pastilah sudah mutlak dimiliki oleh setiap insan guru? Nah, untuk mengembangkan ketrampilan teknisnya, ikuti trik jitu Bang Jonru di “Rahasia Terbesar Penulisan” dengan membuka account di sekolah menulis online-nya di http://www.SekolahMenulisOnline.com/ . Trik yang super ampuh! Segera buktikan sendiri!



Kini, telah dua tahun aku pindah ke Bogor. Semua peristiwa di atas terjadi sebelum aku membaca tulisan Bang Jonru, sang mentor SMO (Sekolah Menulis Online) dari layar internet di kamarku. Ketika satu demi satu emailnya kubaca lewat kursus menulis gratis 9 minggu-nya, rasanya ingin ku menangis. Rinduku pada guru-guru Jabalussalam di Balikpapan menyesak di dada, membuat air mata hati tiada berhenti berderai. Rinduku pada KPBA Cinta Pena .... Aah, alangkah sayangnya jika mereka di sana tidak ikut menikmati tulisan-tulisan ini. Kuingin terbang ke Bumi Borneo, berada bersama mereka untuk membedah tulisan-tulisan Bang Jonru kemudian siap mengamalkannya, menggoreskan pena, menarikan jari di atas keyboard pc, menulis, berkarya, bergerak bersama thawafnya alam semesta dalam rangka zikirnya pada Allah.



Menulis itu mudah. Namun untuk menjadi penulis hebat adalah sebuah perjuangan. Bacalah promo buku “Cara Dashyat Menjadi Penulis Hebat” di http://www.penulishebat.com/ dan jumpai covernya yang atraktif di http://www.penulishebat.com/images/cover_penulishebat.jpg . Saya juga sangat merekomendasikan Anda untuk ikut bergabung di di fan page –nya di http://www.facebook.com/penulishebat atau http://www.twitter.com/penulishebat , Anda akan terpesona oleh pandangan baru bahwa penulis hebat bukan diukur dari banyaknya karya yang dihasilkan. Penulis hebat adalah pembuktian karakter, percaya diri, motivasi tinggi, semangat yang tak pernah padam dan pantang menyerah.



Menjadi penulis hebat seperti dijelaskan dengan jernihnya oleh Bang Jonru adalah cita-citaku, impianku, tujuan setiap gerak langkahku. Karena dengan menjadi penulis hebat, insya Allah aku dapat meniti jalan menuju motivator dashyat lewat tulisan-tulisanku, lewat buku-bukuku.



Saat ini kuhujamkan jauh ke hatiku yang terdalam, dan semoga terbangkitkan juga mereka yang membaca tulisan ini :



“Wahai diri, menulislah, karena menulis itu rahmat.

Bekerjakeraslah engkau untuk dapat menjadi penulis hebat.

Karena penulis hebat adalah jalan menjadi motivator dashyat.

Bisa menggerakkan ribuan orang untuk ikut menjadi hebat, melintasi ruang, menembus jaman.

Karena membuat orang lain menjadi hebat adalah kebahagiaan terbesar.

Dengan tulisanmu, ajaklah orang lain untuk merindukan syurga dengan berbagai cara.

Bayangkanlah wahai ruh,

Betapa indahnya jika kelak berkumpul di syurga, dengan teman-teman yang –atas ijin Allah—

ikut menjadi hebat di dunia karena membaca tulisanmu.

Allahlah pemilik segala kebesaran, jadikan dirimu jalan rahmatNya untuk semesta.

Maka, dengan ini kutantang mereka yang masih juga meragukan bahwa menulis itu mudah. Sama seperti tantangan yang kuberikan pada mereka yang masih juga mempertanyakan bahwa Allah Maha Penyayang, Maha memudahkan segala cita-cita baik kita. Dengan segenap ikhtiar, Ialah yang akan memudahkan tercapainya keinginan yang membuncah ini untuk menjadi penulis hebat, Insya Allah.

Tulislah kebaikan apa saja. Latihlah pikiran kita, hati kita, rasa kita dalam jalinan kata. Setiap hari, setiap saat, sempatkan dan jangan tunda lagi. Goreskan idemu di kertas, di keyboard hp atau komputer. Dan nantikan kejutan manis dari Allah ketika suatu hari kita dilejitkanNya dalam sebuah karya yang bermanfaat bagi orang banyak, yang meneruskan kebaikan bahkan ketika kita sudah tak lagi menghuni dunia yang fana ini.



Mari terus kepalkan tangan teman-teman, semangat dan terus beramal. Ucapkanlah : Allahu Akbar, bil JIDDI !

Sukses Kala Sendiri

Tujuh Ramadhan



Pendakian menuju kebaikan itu, bukan hanya lurus, kemudian sampai di puncak dengan sejuta rasa sukses, sangat mulus. Tentu ada kenangan paling indah selama perjalanan melalui lereng-lerengnya, mengitari sebuah bagian yang tak mungkin dilalui. Terjatuh, karena tersandung akr-akar pohon nan besar, yang ada di sepanjang setapak-setapak itu. Sesekali terjerembab, menginjak lubang yang tak terlihat. Terkilir, kram kaki atau yang lainnya. Itulah yang membuat buku ”KESUKSESAN” sangat digemari. Aroma perjuangan, selalu memacu adrenalin untuk ikut bergelora bersamanya.

Begitulah Ramadhan seharusnya bagi jiwa-jiwa kelana iman. Merasakan sulitnya menahan setiap syahwat diri, yang melingkari zona ingin. Ingin ini, ingin itu, ingin kesana, ingin kesini, ingin begitu, ingin begini, ingin lagi.. lagi dan lagi. Dan tentu tak semua ingin bisa dipenuhi kala berbuka. Bahkan berbuka pun kita masih tetap berpuasa. Berpuasa lisan kita, dari mencela atau menyebut-nyebut kurangnya nikmat. Karena kadang tanpa sengaja terucap, ”Duuh, coba ada buah ya.” atau ”Enak kayaknya, kalau ada jus.”

Puncak sukses Ramadhan yang sesungguhnya, bukanlah di ujung hari-hari itu. Namun, senja-senja ramadhan adalah rintangan-rintangan yang mesti dilalui satu demi satu, yang kemudian terakumulasi di akhirnya. Seberapa berhasilnya kita ketika menghadapi setiap rintangan. Itulah yang menjadi bahan hitungan bagi suksesnya.

Pendakian ramadhan, adalah pendakian pribadi. Sekalipun ada orang-orang tercinta, manusia-manusia tersayang di sekitar kita. Namun, Ramadhan sesungguhnya adalah proses pencapaian kesuksesan individu. Karena, kebersamaan akan selalu membawa semangat yang luar biasa tentunya. Untuk menahan setiap bujukan nafsu yang ingin dipenuhi. Kebersamaanlah yang memotivasi kita untuk kuat dan bertahan hingga selesai. Itu, sungguh mempermudah apa yang kita sebut puasa atau shaum.

Namun, bagaimanakah puasa kita kala kita sedang bersendiriian..??

Baru sepekan berjalan. Terasa mulai berat tubuh dan mata ini semakin bernafsu untuk tertutup. Lihat ke kanan, ternyata sedang sendiri. Lihat kekiri, nyatanya memang sendiri. Hingga akhirnya meredup terbawa kantuk, karena tiada sosok-sosok lain yang memberi semangat, memotivasi untuk terus istiqamah menggelar ibadah dan amal. Mencoba menemukan keteladan dalam wujud-wujud shalih di dekat kita. Toh, tak selamanya kita akan bersama mereka. Kala itulah, puasa dicoba, dengan sebenar-benarnya.

Pengawasan terhadap panca indera yang melemah. Tak terbatas lagi, apa yang mestinya tidak dipandang. Lisan yang terbebas dari kawalan, lalu berkeliaran merusak keriangan. Telinga terbuka bagi setiap suara, berita dan kabar. Tiada filter yang memfungsikan hati untuk menahan setiap gerak diri. Begitulah seringkali jika kita bersendiri.

Akankah, orang lain, yang kita sayangi, selalu ada bersama kita. Mengawasi kita, memberi kita semangat, menggandeng kita untuk terus berjalan, membantu kita dikala kesulitan, menarik kita untuk berdiri kala kita jatuh. Adakah mereka akan terus ada di sisi kita, memberi tahu akan keharusan, menginfokan kebaikan, mencoba membenarkan sesuatu yang salah pada diri kita. Akankah mereka terus ada..??

Jawabannya, TIDAK. Sekali-kali tidak. Karena, pertemuan itu, sejolinya adalah perpisahan. Persatuan itu, pasangannya adalah perpecahan. Kebersamaan itu kebalikannya adalah kesendirian. Semua akan terjadi pada kita. Saatnya, mengandalkan diri kita. Lupakan keteladanan, karena kala bersendiri keteladanan itu semu. Hanya memory yang membekas keras pada rasa. Semua bisa punya memory tentang keteladanan. Namun, yang membuatnya berbeda adalah, siapakah di antara kita yang berhasil memanfaatkan keteladanan itu, kala sepi. Siapa yang sukses membangun kebaikan bagi dirinya, kala sendiri. Karena, kebersamaan dan kesendirian itu sebenarnya adalah kawan. Layaknya, tangan kanan dan tangan kiri. Namun, ketika tangan kanan memberi, tak selayaknya tangan kiri tahu. Ketika amal dilakukan, sendiri ataupun dalam kebersamaan. Amal itu selalu menjadi rahasia kita dan Allaah.

Mari diri.. semangat lagi

Meski sepi.. yuuuk beramal lagi

Jauh dari riuh tepuk tangan dan puji

Namun.. ayolaaaaaaah jiwa

Kita sukses bila bersama

Dan kita pula berhasil, meski tiada siapapun jua

Langkah Kecil Menuju Ramadhan



Duhai dikau semua. Termasuk diriku yang telah melakukan perjalanan panjang. Di antara belukar cerita peradaban. Telah kau temui, hari-hari terang yang dirajai nafsu. Di mana setiap kesenangan, diikuti tanpa ragu. Tetap kau batasi dengan nilai-nilai yang memenuhi kemampuan diri dengan garisan pena hati. Namun, begitulah sebelas bulan perjalanan kita serasa lepas setiap benteng diri. Dilucuti satu-satu oleh semakin jauhnya kita dari yang kita sebut cahaya.

Mujahid..

Beberapa tikungan jalan lagi, ketika kita temukan kerikil-kerikil yang kan sedikit menggores telapak-telapak kaki harapan. Beberapa tanjakan lagi, kala kita mesti menggapai sukses-sukses di puncak hari. Beberapa turunan lagi, yang mesti kita lalui untuk menemukan lembah-lembah kedamaian di ujung-ujung senja yang sentuh rasa. Beberapa matahari lagi, yang akan kita nikmati untuk menemani kita memacu energi seperti cahayanya. Beberapa kelembutan bulan, yang senantiasa syahdu menghias hati yang penuh rindu. Serta beberapa taburan bintang lagi, yang perlu kita kumpulkan untuk menghias jiwa-jiwa yang mencinta. Ya.. tinggal beberapa masa lagi. Kita kan jumpa dengan malam-malam bergelimang berkah. Pula pagi, siang dan senja yang banyak rahmah.

Mujahid..

Bagi mereka yang telah dijanjikan pertemuan dengan sang Ramadhan. Sungguh, telah dihidangkan nikmat bagi kita untuk direguk sepuasnya. Sungguh, Allaah sangat inginkan kita semua bisa memasuki surga-Nya nan indah. Tak kurang Sang Maha Rahmaan menyediakan fasilitas-fasilitas bermutu, yang diberi jaminan bagi kita akan memijak surga jika menggunakan fasilitas-fasilitas itu dengan maksimal. Setiap tamu Ramadhan, adalah manusia-manusia yang diberi waktu untuk menikmati kesempatan bermegah-megah dengan pakaian-pakaian amalannya. Bersama detik-detik yang seharusnya digunakan untuk bercengkrama dengan ibadah-ibadahnya. Diiringi senandung kalam yang mengalir syahdu dari lisan-lisan yang penuh rindu. Setiap siang yang kan terasa panas dan menyengat, penguji hati dan kekuatan benteng diri. Malam-malam yang terasa sejuk, penggoda mata tuk menutup dan terseret oleh kantuk. Senja-senja yang makin teduh, penarik jiwa tuk penuhi setiap sisi puas. Shubuh-shubuh nan ramai, memancing ingin tuk isinya dengan perjalan pagi nan sia-sia. Masa-masa yang sangat berharga. Sebuah fasilitas untuk mencetak jiwa. Pembentuk taqwa.

Semakin banyak ibadah, semakin banyak kebaikan, maka Allaah berikan bermacam-macam nikmat. Nikmat yang paling besar ialah ditambahkannya keimanan.

Mujahid…

Perang terbesar itu akan digulirkan. Pertemuanmu dengan Ramadhan, kan membantumu tuk lebih kuat. Lebih mampu menguatkan kendali atas diri. Makin sigap menjaga setiap sisi syahwat, agar tak bebas berkelana pada angan yang meng-angin. Jauuuuuh, tanpa kenal tempat jelajahnya dan tiada peduli ranah pijakannya. Hanya menghayal panjang penuh harap, tanpa mujahadah. Panggullah senjatamu serentak, hingga kalut dunia karena takut melihat kau bangkit dengan perkasa. Syaithanpun terbirit melihat kau sanggup kuasa diri dalam kawalan ratusan peluru sujud. Angkatlah panji semangat tuk berlomba melumpuhkan musuh diri, satu demi satu. Hingga fajar Syawal menyambutmu dengan kemenangan yang dijanjikan. Kembali fitri, dengan selembar jiwa yang suci. Bersih dari sampah-sampah hati yang mengotori perjuangan ini. Sehingga pantaslah diri tuk menerima sebutan mujahid.. pejuang.. satria.. Dan siap, untuk pertarungan yang sebenarnya.
Wahai orang yang selalu mencari dan beramal kebaikan, bergembiralah. Wahai orang yang mencari dan berbuat amal keburukan, berhentilah. Seruan ini terus didengungkan sampai akhir bulan Ramadhan.” (HR Ahmad dan Nasa’i)

*****@*****

Memanjangkan langkah
Sambil berhitung
Semogalah kami pemilik keberuntungan
Dengan beberapa jejak dan cerita
Yang mesti kami buat

Menanti kesempatan
Menyibak fajar baru
Yang telah hadir di ruang rindu
Sekian lama

Memohon dengan sangat.
Sampaikan kami..
Pada hari-hari berkah
Pada malam-malam syahdu
Pada udara yang Engkau Rahmati padanya

Sampaikan jiwa-jiwa cinta ini
Pada detik-detik itu
Sebuah arena pertarungan dengan nafsu
Di waktu-waktu para perindu

Beberapa langkah lagi
Memohon dengan sangat..
Izinkan..
Detak jantung ini
Berdenyut nadi
Hingga sampai seiring fajarnya
Perkenankan..
Udara berkelana
Penuhi relung-relung hidup kami
Relakan..
Otak kami tetap dengan denyut pikirnya

Demi memeluk Ramadhan sepenuh hati

Memohon dengan sangat..
Sampaikan kami… Dengan kaki kecil ini… Menapakkan diri… Di Ramadhan nan Suci… Amiin yaa Rabbal’aalamiin

Catatan-Catatan Aufa *_^




*Catatan 1
Pada suatu hari, ada seorang manusia di ciptakan oleh Allah. Ia adalah manusia pertama yang diciptakan & diturunkan ke surga.. ia bernama Adam. Suatu hari, ia merasa kesepian.. Adam meminta dengan cara berdo'a kepada Allah supaya punya pendamping. Maka, Allah menciptakan Siti Hawa. Siti Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Adam merasa senang sekali, karena sudah ada teman di surga. Dia merasa begitu dekat dengan Hawa, karena Siti Hawa berasal dari tulang rusuknya.
Mungkin Papa dulu..begitu juga ya?? Berdo'a kepada Allah.. supaya bisa ketemu dgn Mama..
"Ya, Allah..'Aku sangat senang karena Papa & Mama bisa ketemu & menikah. 'Aku rasa Raadhii & Azka pasti juga senang...amiin".

*Catatan 2
Ramadhan tlah tiba. Jangan sia-siakan bulan Ramadhan ini, karena pada bulan ini Allah banyak memberikan pahalanya & ampunannya. Contohnya, kalau kita tidur di bulan Ramadhan.. itu adalah ibadah. Kalau ibadah, pastinya dapat pahala dong!! Tapi.. tetap jangan tinggalkan sholat ya.. ^_*
Di bulan Ramadhan dosa-dosa kita juga terampuni. Tapi kalo ada dosa preman & penjahat terampuni??
Itu sungguh terlaluu..!! Terlalu baik, maksudnya ya Allah... :)

*Catatan 3
Mesjid itu sakit. Mesjid itu kecil bentuknya. Dia sakit karena tidak pernah dirawat & dijenguk oleh tetangganya. Tiba-tiba..ada helikopter lewat, dan membawanya pergi jauh..tidak tau kemana.
Pada subuh tiba, jama'ah merasa kaget..karena Mesjidnya sudah tidak ada. Mereka mencari Mesjid kecilnya kemana-mana, bertanya ke teman2 lainnya, ke laut, ke bukit, ke awan, naik balon udara, naik truck, naik pesawat, manjat pohon tinggi..tapi mereka tetap tidak menemukannya. Mereka sedih sekali, mereka rindu sama Mesjid kecil mereka. Tiba-tiba, helikopter lewat..ia membawa mesjid kecil pulang dan ditaruh di tempatnya lagi. Mereka sangat senang Mesjid kecil sudah pulang kembali. Mereka cepat2 memeluknya & membersihkannya..dan sholat berjama'ah di dalamnya. Alhamdulillah...kata mereka. ^_^

teruslah.. menulis, tapi jangan lupa ganti pensilnya yaaa.. ^_^

(By Nadzifah 'Aufa Qothrunnada (9 thn)

Apa Yang Bisa kubawakan Untuk-Nya




Telah jauh ku melangkah...
Berpuluh tahun lamanya aku pergi...
Bermacam-macam yang sudah aku lakukan & kerjakan...
Beraneka ragam yang aku lihat & saksikan...
Semua begitu indah, ngeri, bahagia, sedih, terasa ringan ataupun berat.. selalu mewarnai setiap perjalananku..

Di awal kepergianku, Engkau titipkan aku pada seseorang yg Engkau sangat percaya untuk menjagaku..
Engkau tidak membiarkan aku begitu saja...
Engkau begitu sangat menyayangiku, memperhatikanku & memanjakanku dengan menyediakan bekal yang cukup.. selama aku pergi.
Engkau selalu mengamati & mengawasi setiap detik perjalananku..

Entah kapan Engkau akan memanggilku tuk pulang..
Jantungku-pun slalu berdebar-debar jika tau saatnya tlah datang..
Aku selalu bertanya-tanya, oleh2 apa yang pastas kubawakan untuk-Mu??
Seberapa banyak buah tangan yang sanggup ku jinjing, kupanggul & atau ku seret??
Atau.. Aku, sama sekali tidak sempat atau sanggup membawa ini semua?? Wallahu a'lam bishawab..

Maafkan Aku ya Rabb..
Aku kan berusaha membawanya... walaupun itu berat
Mungkin bisa sebagai bukti... bahwa selama ini aku telah berjalan...
Atau.. sebagai kenang-kenangan, bahwa aku telah mengalami & merasakan semuanya??
Atau.. sebagai bahan untuk menceritakan semua perjalananku kepada-Mu...

Tapi.. aku juga tidak tau,
Apakah oleh2 yg aku bawa.. Engkau akan menyukainya??
Aku khawatir... apa yang kubawa tidak berarti apa2 bagimu...
Atau apa yg kuceritakan... tidak dapat membahagiakan-Mu..
Sedih, jika membayangkan itu.. terjadi?? T_T

Yang aku impikan hanyalah.. apapun yang kubawa..
Dapat membuat-Mu tersenyum bangga, tertawa bahagia, atau terdiam.. krn sangat ingin mendengarkan cerita-cerita ku...
Duhh.. senangnya, jika mimpi itu memang bisa terjadi...

Ya, Allah.. teruslah bimbing aku dlm perjalanan ini..
Tegur aku, jika aku salah melangkah..
Tunjukkan aku arah yg benar..
Izinkan aku pulang, ikut bersama orang2 yg Engkau sayangi...
Dan... tolong bisikkan kepadaku, oleh2 apa yang Engkau suka??
Aku kan sangat berusaha... tuk membawanya..
Dengan tersenyum.... ^_^
Amiiin...

Akulah Orang yang Kau Butuhkan Untuk Itu



Siapa yang sanggup memegang pedangku dalam perang ini…!?

Dalam sebuah kesempatan memeriksa pasukan kaum muslimin dalam perang Badar,
beliau ‘’melelang amal’’ kepada sahabat yang hadir saat itu.
Sebagian besar sahabat mengacungkan tangan, sebagai tanda
keinginan untuk memenuhi tawaran Rasulullah saw tersebut.

Rasulullah saw ternyata tidak terlalu tergoda untuk memuji
reaksi semua sahabat tersebut, kemudian beliau kembali berbicara,
“namun siapa dari kalian yang bisa memenuhi hak dari pedang ini…!?”,
Satu-persatu tangan para sahabat turun kembali, seraya berpikir kembali
untuk tetap bertahan dengan acungan tadi.

Suara itu terdengar dari kejauhan, “Apa hak pedangmu itu wahai Rasulullah…?”,
seorang laki-laki sederhana bertanya, Rasululullah saw mengatakan, bahwa
“Hak pedang ini adalah dipakai sebanyak mungkin membunuh para musuh Allah “.
Jawaban ini semakin membuat sahabat memiliki alasan untuk tidak mengacungkan tangannya.

“Aku adalah orang yang kau butuhkan untuk memenuhi hak pedang itu wahai Rasulullah..!”
Suara gagah itu terdengar jelas dan pasti, aura suaranya melukiskan betapa primanya jiwanya.
Spontan dia keluar dari barisan dan menuju Rasulullah saw yang berada didepan,
kemudian dia mengikat kepalanya dengan kain berwarna merah , lalu dia mengambil
pedang itu tanpa sarungnya dan dia letakkan dengan gagah di depan dadanya.
Semua mata tertuju kepadanya, dia telah menjadi “artis pada perang itu”, dengan dada yang membusung sambil memegang pedangnya, dia melangkah pasti
melewati barisan dan kembali ketempatnya semula, dia bernama Abu dujjanah ra.

Melihat itu, Rasulullah saw bersabda,
”Inilah cara jalan yang paling dibenci & dimurkai Allah swt diatas muka bumi,
Kecuali ditempat ini”.

Ini bukan pamer kesombongan, namun ini adalah refleksi jiwa yang gelisah.
Gelisah tentang siapa yang menjadi penjawab akan Sabda Rasulullah saw tersebut.
Para pahlawan selalu membutuhkan panggungnya, supaya dia bisa menampilkan
dari penampilan maksimal amal perjuangannya.
Para pahlawan membutuhkan “sayembara amal”, bukan untuk dikenal sebagai pahlawan,
namun itu adalah tangga investasi untuk menabung amal kepahlawanannya,
yang selalu dibutuhkannya.
Bukan dalam rangka hitung-hitungan dengan sesama manusia, namun untuk
Perhitungan dihari akhir kelak.
Semua pahlawan telah ditakdirikan hadir untuk melakukan amal prestasi yang prestasius,
Melakukan lompatan-lompatan keberanian dan menyegajakan dirinya untuk tetap
Selalu memiliki hasrat keberanian, karena mereka selalu sadar bahwa salah Satu dari pintu
Keberhasilan itu adalah keberanian .


Gang Depag
Gelisah,” takdir amal sang pahlawan..?”


(Ust. Syukri Wahid)

Beliau telah menulis sebuah buku berjudul

"Manajemen Gerakan Dakwah Dimasa Krisis, Belajar Dari Sejarah Perang Khondaq"

Barakahnya Hidup dengan Satu Istri



...................................................................
Lihatlah Dirimu

Permasalahan yang membuat syariat Poligami menjadi jelek dimata umat islam sendiri adalah….
Niat Poligami tidak lurus karena Alloh
Tidak memiliki Ilmu, untuk melaksanakan syariat itu

Akibatnya citra keluarga Poligami adalah menjadi Buruk
Karena hampir semua keluarga Poligami di Indonesia
Membuat roboh atau minimal gempa yang sangat dahsyat pada Bangunan yang Pertama yang di bentuk
Yaitu Keluarga pertama atau Istri Pertama

Disini engkau harus melihat dirimu ????

Apa Yang Dilihat ??

Kebahagiaan cermin Keadilan

Seorang bertanya kepada saya
“Ustad..bagaimana kita tahu bahwa Istri kita Bahagia hidup dengan kita suaminya….??
Lalu saya menjawab
“Ya akhi lihat pada cahaya wajah dan sorot matanya…”
“Jika ia berseri maka ia bahagia denganmu, jika muram dan pucat engkau bisa menjawabnya sendiri…”!!

Dan hampir yang saya perhatikan
Istri pertama pada keluarga Poligami
Memiliki sorot dan cahaya wajah yang redup
Seperti menyimpan beban yang teramat berat…..
Bahkan di kalangan istri para Ulama sendiri yang melaksanakan Poligami

Saya menilai ada ketidak ikhlasan dalam melaksanakan syariat itu

Permasalahannya adalah
Jika engkau ingin melangkah
Membentuk cabang keluarga SAMARA yang baru
Kembali tanyakan pada dirimu
Sudah kah engkau membuat istri pertama mu bahagia ??

Keputusan Bersama Bukan Mutlak Milikmu

Ketika engkau melaksanakan poligami
Yang terjadi adalah keputusan bersama, berdasarkan hasil diskusi yang cukup panjang
Dalam bahasa saya adalah Tarbiyah membina Istri

Jadi tidak dengan tiba-tiba tiada angin tiada hujan engkau berkata pada istrimu mau menikah lagi….
Maka yang akan terjadi adalah Guncangan Jiwa yang teramat sangat pada Istrimu
Dia kaget
Shock
Dan tiba-tiba suhu rumahmu sudah berada di atas 100 derajat celcius
Betapa panasnya Rumah Tanggamu saat itu

Ada dua pilihan jika engkau memaksakan kehendakmu
Untuk menikah lagi dengan kondisi seperti itu
1. PERCERAIAN
2. Pernikahan dengan istri pertamamu akan terasa hambar, tanpa Cinta dan Kasih sayang, yang ada adalah benci dendam, dan doa istri yang merasa terzalimi.

Tapi jika engkau mulai membina istrimu
Memperbaiki akhlak
Memperbaiki ibadahmu
Membahagiakan istrimu
Maka yang terjadi adalah dialog
Mulai dari tema Poligami, criteria istri kedua, sampai nama calon istri keduapun, istri pertamamu memberikan masukan, usulan, dan kritik
Inilah Keputusan Bersama
Maka yang keluar dari hasil Keputusan itu adalah
KEIKHLASAN ISTRI untuk Melaksanakan Poligami
Dan proses ini Panjang
Tidak bisa Instan…..
Dan kekuatan doa pun memainkan peranannya

Indahnya Memiliki Satu Istri

Lihat 10 kondisi dibawah ini

1. Tidak Sanggup Berlaku adil
2. Tidak sanggup Menafkahi
3. Tidak sanggup membahagiakan
4. Tidak sanggup mengelolah kecemburuan
5. Tidak sanggup mengatur waktu
6. Memberikan Citra Negatif pada Dakwah
7. Membuat keretakan Hubungan kekeluargaan
8. Mengurangi Produktifitas Dakwah
9. Mengurangi Perhatian Terhadap anak-anak
10. Menguras Tenaga Pikiran dan Perasaan


Jika satu saja dari 10 kriteria itu antum miliki,maka saran saya jangan pernah berpikir Poligami…..
Benahi dulu dirimu
Atau Bahagiakan Dirimu dengan cukup satu Istri.

Disinilah Letak hilangnya Akal Lelaki
Imam Bisyrun Al-Hafi…..berkata
“ILMU AKAN HILANG DIANTARA DUA PAHA PEREMPUAN…”

Hampir semua pesan yang saya baca, keinginan Menikah lagi..orientasi nya hanya seksual….tidak ada Misi atau Cita yang Besar dan Bening, yang menjadi tema yang pernah saya publikasikan tentang Poligami itu sendiri
Saya memahami mungkin karena ilmu yang belum di pahami….
Disinilah saya mencoba menyusun ulang Pemahaman itu sendiri
Agar tak hanya keinginan itu saja yang melandasi poligami
Terlalu rendah
Terlalu sederhana, jika ia menjadi tujuan dan niat……

Bagaimana menyelesaikan gejolak itu ya Ustad ???
Pertanyaan ini orientasinya seksual
Saya menghitung ada 74 kaum adam yang bertanya di inbox saya ^_^
Kadang saya suka senyum-senyum sendiri membacanya….

Inilah jawaban saya ke antum semua (terutama yang bertanya, saya jawab lagi ya )

BERSENANG-SENANGLAH DENGAN ISTRI SATU-SATUNYA…..!!

Faiz bin Nazih berpendapat : “Apabila (maaf) Kemaluan laki-laki bangun, niscaya hilanglah dua pertiga akalnya…” sedangkan ulama yang lain mengatakan “Hilangnya sepertiga agamanya”

Ini yang saya lihat sebagian besar orang berpoligami, karena syahwat ini…tanpa di iringi ilmu yang memadai dan infrastruktur yang mendukung

Jika ini terjadi pada antum, sementara antum memiliki satu saja dari 10 kriteria di atas
Maka yang harus antum lakukan adalah
Jika birahi dan syahwat itu datang
Sementara kemampuan tidak ada
Maka jalan penyelamatannya adalah
Bersenang-senanglah dengan istri antum satu-satunya itu
Buat variasi, suasana, atau tempat jimak yang nyaman……..”!!

Malu Ustad ??
Jawab beberapa orang pada saya

Lagi-lagi kuncinya Komunikasi
Komunikasi kan lah dengan istri antum
Dialog kan
Dengan begitu semuanya akan cair dan terselesaikan
Sahabat
Disinilah sekali lagi
Islam hadir dengan RahmatNya
Jika kemampuan tak ada
Maka Memiliki satu istri adalah jalan penyelamatan
Jalan keindahan

Maka
Inilah Indahnya Memiliki satu Istri
BarokahNya
Bahagiakan dulu bidadarimu yang satu ini
Niscaya Alloh akan menatapmu dengan tatapan Cinta
Barulah engkau berpikir Poligami

Ingat gunakan Iman dan akalmu
Agar tak ada lagi wajah dan sorot mata yang redup
Pada istrimu……..


)I(hamzah)I(

Keterasingan Hati



Terngiangku satukan zaman membelah masa. Teriak ku disudut sepi hempaskan kesadaran. Tersedu tangis teringat yg terlewat. Teramat pedih jauh meninggalkan nestapa.

Ku Bersajak ditengah galau satukan rasa, beranjak pergi jauh tinggalkan semua, Berdiri teguh menahan keheningan, berlari dalam penat menuju kekosongan dalam lamunan.

Sepiku terhunus pedang kenistaan, kesedihanku merajai logika menuju kebodohan. Sendiri batin berteriak namun tak bersuara. Sejawat penyesalan muncul dlm pengaruh kegelisahan.

tawaku hina dan menggema keruang hampa, bersemayam dalam lubuk hati terdalam,satu kisah hlg namun tak terlupa,membahana ke sudut-sudut gelap.

Terdesakku tersudut kenangan, menyuarakan hati yg telah bisu. Kesenangan hilang bertabur kesedihan, terlempar dalam zona pengharapan.

Tatapan kering tertelan masa, meraih gejolak perantauan. Terbungkam hati dalam pencapaian, menyisakan dahaga masa lalu. tangisku mengalir ke telaga gersang,bermukim di hijaunya keputusasaan.

Mengapa langit hitam kelabu, mengapa gersang terasa, mengapa hitam pekat menyelimuti,mengapa udara menjadi hampa,mengapa ku sirna dalam butiran-butiran.


(Januar Al Farisi)

Harga Jilbab



Harga jilbab yang sedang aku pakai ini, lima puluh ribu rupiah!.
Bordirnya sederhana, aku beli dengan menyisihkan sedikit demi sedikit uang, maka bordirnya teramat indah dimataku.

Jika kau datang padaku dengan tawaran, barter jilbab yang tengah aku pakai ini dengan mahkota emas bertahtakan berlian punyamu,
Dan aku katakan padamu, ” walaupun kau berikan mahkota emas bertahtakan berlian, ditambah lagi mahkota bertahtakan permata yang ada diseluruh dunia, tak akan ku barter jilbab yang tengah aku pakai ini !"

Maka harga jilbabku saat itu lebih tinggi dari total harga mahkkota-mahkota tersebut !

Jika kau datang padaku dengan tawaran barter jilbab yang sedang aku pakai ini dengan seragam kantormu yang pamerkan aurat
Ditambah kedudukan, kehormatan dan gaji yang tinggi dari perusahaanmu yang sanggup menghidupi berpuluh-puluh anak yatim dan fakir miskin
Dan sanggup mengeluarkan berjuta-juta zakat
Juga sanggup menunaikan ibadah hajiku tiap tahun
Jika tawaranmu aku tolak

Maka harga jilbabku saat itu ...
Jauh lebih tinggi dari harga seragam kantormu,
Ditambah nilai kedudukan yang engkau tawarkan
Dan jauh lebih tinggi lagi dari nilai kehormatan yang engkau sodorkan.
Bahkan jauh, jauuuuuuuh .... teramat tinggi lagi dari gaji yang sanggup engkau bayarkan
Ditambah lagi dengan nilai berlipat-lipat pahala dari kemampuan gaji itu untuk menghidupi yatim piatu dan fakir miskin.
Ditambah nilai berlipat-lipat pahala lagi dari kemampuan gaji itu mengeluarkan zakat
Ditambah nilai berlipat-lipat pahala lagi dari kemampuan gaji itu untuk menunaikan ibadah hajiku tiap tahun.
Selama perusahaan itu berdiri dalam batas usia kerjaku
Jumlahkanlah ..!
Sungguh, harganya jadi teramat tinggi

Maka ,
Jangan beli jilbab yang tengah aku pakai ini !

(By Maya Amhar)

A Love That Will Last



Entah kenapa malam tadi bidadariku seperti tersihir dan masuk kedalam duniaku. Malam tadi kami memang ingin mencari suasana yang cozy.

“Aku kok tiba2 kepingin menyesapi secangkir kopi diiringi alunan musik Jazz mas”, katanya..

Aku meliriknya seolah tak percaya; tak seperti biasanya nduk, ada sesuatu yang membuatmu agak berbeda malam ini, tapi tak apalah, malam ini aku akan membawa kemanapun engkau minta. Hmmm..., bagaimana kalau kita ke kafe di tepian sungai Mahakam itu nduk?

Bidadariku mengangguk setuju sambil menatap manja mataku, kali ini aku yang tersihir dan terpedaya dengan magnet kecantikannya.

Bidadariku selaksa senyum menautkan alis matanya. Kemudian kami beranjak menuju kafe itu, kafe yang menyimpan belasan memory tentang cerita perjalananku, tentang wanita-wanita yang pernah singgah dalam hatiku. Tempat yang cukup cozy dan sangat kontras dengan suasana malam itu.

Mas, aku hanya ingin menikmati kopi dan duduk merapat disisimu malam ini, pinta bidadariku dengan manja.

“Tapi disini kopinya ndak selengkap dan seenak ditempat Mas biasa ngopi loh Nduk”.

“Ndak masalah mas, selama masih ada Mas disisiku, semua terasa hangat dan nyaman mas, dan hidupku ndak akan hambar lagi” jawabnya.

Akhirnya kami benar-benar memesan kopi saja malam itu, meski tanpa Macchiato ataupun Frappuccino, kami tetap bisa menikmati Ginger Coffee yang hangat.

Nduk sebenarnya apa sih yang membuatmu agak berbeda malam ini? kamu sedang jatuh cinta ya? Ndak seperti biasanya kamu menikmati dan menyesapi secangkir kopi, dan mencari suasana seperti ini.

Ndak ada apa-apa kok mas, jawabnya, toh ndak ada salahnya juga kalau aku mengikuti gaya sampeyan mas, sah-sah aja toh?

Ya Ndak apa-apa sih nduk, Cuma Mas heran aja, kok tumben-tumbennya kamu seperti ini.

Ya Sebenarnya aku cuma ketakutan aja mas, Aku takut seperti dulu.

Loh takut kenapa toh Nduk?

Ya dulu aku pernah punya kekasih, awalnya aku terpesona oleh gagahnya dan kharismanya. Tapi semua itu cuma kamuflase saja mas. Ternyata Lelaki itu berhati gua, seperti lorong gelap yang nyaris tak berujung. Percuma saja seperti mengharap elang betah disarang, aku cuma ilusi saja baginya. Aku tak benar-benar yakin kalau laki-laki itu singgah dihatiku.

Aku masih ingat benar ketika lelaki itu mendadak pergi pada sebuah pagi yang basah oleh gerimis. Ia hanya meninggalkan satu pesan pendek. Tanpa kalimat perpisahan. “Aku hendak mengejar bayang-bayang ke utara,” begitu isi pesan itu.

Aku memang sudah menduga. Suatu saat kelak, lelakiku itu pasti pergi begitu saja. Dengan atau tanpa alasan. Ia merasa dirinya seperti Agnes Monica dalam tembang yang menghanyutkan, “Teruskanlah”

Lalu apa yang selanjutnya terjadi dengan dirimu Nduk?

Aku sebenarnya sudah menyiapkan hatiku untuk kemungkinan yang paling buruk sekalipun Mas, tapi tetap saja tak bisa, hatiku serasa remuk dan berantakan. Aku merasa masa depanku yang dianyam oleh harapan dan cita-cita ikut terbang.

Tapi setelah aku kenal sampean mas, kok ya hatiku kembali sejuk, aku seperti merasakan ada Chemistry dalam diri Mas. Entahlah apa memang benar-benar Chemistry atau memang saat bertemu aku sebelumya Mas menyemprotkan Pheromone pada tubuh Mas, sehingga membuat wanita tertarik seperti magnet.

Hahaha.. kok ya kamu bisa ngomong seperti itu toh nduk, itukan artinya kamu sudah menemukan kembali harapanmu yang hilang. Tapi nduk ngomong-ngomong emangnya kamu ndak takut seandainya Mas juga tiba-tiba menghilang, seperti lelaki masa lalumu itu?

Ya ndak lah Mas, toh aku sudah tahu latar belakang dan kredibilitas sampean Mas, mana mungkin sampean yang begitu menghormati dan menyayangi wanita berbuat seperti itu.

Bidadarikupun kemudian bersandar di dadaku. Pelukan hangat, sedikit kecupan di kening dan senyum bahagia terpancar diwajahnya, ia seperti tenggelam dalam kehangatan suasana malam itu, dan dari sudut ruangan kafe mulai terdengar alunan vokal jazz dengan suara lembutnya Renee Olstead – “A Love That Will Last”......

I want a little something more
Don't want the middle or the one before
I don't desire a complicated past
I want a love that will last

Say that you love me
Say im the one
Don't kiss and hug me and then try to run
I don't do drama
My tears don't fall fast
I want a love that will last

I don't want a just a memory
Gives me forever
Don't even think about saying good-bye
Cuz i want just one love to be enough
And remain in my heart till i die

So call me romantic
Oh i guess that must be so
Theres something more that you oughta know
I'll never leave you
So don't even ask
I want a love that will last

Forever
I want a love that will last


[Chorus]
I don't want a just a memory
Gives me forever
Don't even think about saying good-bye
Cuz i want just one love to be enough
And remain in my heart till i die

So theres little more that i need
I wanna share all the air you breathe
I'm not the kinda girl to complicate the past
I want a love that will last

Forever
I want a love the love that last
Always
I just want a love that will last
Want a love that will last

(By Ipung Betawi Samarinda)

I'm Almost Over You



Balikpapan, September 2010
Diah, seorang gadis dengan balutan baju takwa, cerdas, enerjik, punya jaringan dakwah yang sangat luas, cinta anak-anak serta memiliki wajah ayu. Kesempurnaannya sebagai gadis belia membesitkan kagum pada setiap mata yang memandangnya. Tinggal bersama kedua orang tuanya, yang sangat mendukung kondisi dirinya sebagai salah satu penggerak dakwah dengan segudang aktifitas di luar rumah. Ibunya seorang wanita dengan tingkat kesabaran tinggi, terutama saat menanti kepulangan suami yang juga punya agenda dakwah padat seperti putri tunggalnya. Ayah Diah, ustadz berpenamilan sederhana, sudah menyusuri pelosok-pelosok daerah untuk mensyiarkan islam secara benar. Meski hidup dalam rumah sederhana, keluarga kecil itu punya banyak cara untuk menunjukkan syukur atas segala karunia yang telah Allah berikan. Salah satunya, menjadikan keluarga mereka teladan bagi masyarakat sekitar dalam menjalankan aturan-aturan hidup yang ditetapkan Allah kepada setiap muslim.

Jakarta, September 2010
Wajah hitam manisnya semakin sering menghias halaman majalah remaja dan layar televisi melalui infotainment gossip dalam jajaran hot news-nya. Abdan, penyanyi muda yang punya lesung pada kedua pipinya dan mengenakan kacamata dari usia SMP. Sejak kehadirannya di jagat hiburan Indonesia, namanya kian melambung dan mengantarkannya menjadi salah satu penyanyi idola remaja Indonesia. Berbagai konser dan undangan lawatan ke negara-negara jiran terus mengalir. Jumpa fans dengan ratusan bahkan ribuan penggemar yang didominasi remaja putri, yang tak segan mencium atau mencubit pipi Abdan. Euphoria kehidupan sebagai selebritis semakin kentara dan sepertinya masa-masa kejayaan telah berada dalam pelukannya.

Samarinda, September 2010
Amelia sibuk membenahi kertas-kertas yang berserakan di atas meja. Sejak bekerja di sebuah event organizer dan menjadi coordinator Fans Club Abdan di Kalimantan Timur, telah banyak surat dari para fans di area kerjanya yang meminta agar acara temu kangen dengan penyanyi muda itu segera digelar. Karena dua kegiatannya itu saling terkait, Amel jadi lebih mudah untuk memperlancar terwujudnya keinginan para fans Abdan.
“Tin, kamu segera hubungi manajernya, kapan fix-nya kita dapat kabar kesediaan dia tampil di sini untuk akhir tahun” Amel berteriak ke arah Tini, co-officer-nya yang dari tadi bolak-balik kamar mandi karena salah makan.
“Udah kuhubungi dari kemarin tapi mail box terus, mbak” Tini yang beberapa menit lalu baru saja keluar dari kamar mandi memegang perutnya yang kembali terasa mules. Tak lama, dia buru-buru masuk ke ruang khusus untuk menghayal, kamar mandi.
Amel yang sejak tadi merasa terganggu pada Tini yang nggak bosan masuk keluar kamar mandi, mendadak sebal.
“Di email kek, Tin” Amel mengeraskan suaranya. Berharap Tini yang sibuk dengan aktifitas buang hajatnya mendengar apa yang dikatakannya.
“Ya, mbaaakkk” dari dalam ruang kecil itu, suara Tini menyahut.
Amel menatap pintu kamar mandi dengan kening berkerut “sempat-sempatnya ngejawab”, lalu mata Amel kembali pada layar lap topnya untuk menuntaskan tugas panen pada aplikasi Farmville di jejaring sosial-nya.

Jakarta, Oktober 2010
Abdan sibuk mengepak kostum menyanyinya pada koper besar. Segera, setelah ini, dia akan terbang ke Makasar untuk konser di salah satu arena permainan indoor terbesar. Di sebelahnya, sang manajer sibuk menelepon penyelenggara untuk memastikan bahwa penyambutan artis-nya telah dipersiapkan. Jangan sampai kejadian di tempat sebelumnya terulang, saat panitia acara lupa menjemput Abdan di airport dan membuatnya luntang-lantung di bandara. Parahnya, nggak satu pun orang di airport yang menyadari bahwa wajah kuyu dan terlihat lelah itu adalah artis ibukota yang sedang naik daun.
“Pom, lu jangan lupa bawa handycam gue yang kemarin baru beli di Singapore. Gue perlu dokumentasi komplit ya” Abdan menyikut lengan Pompom, manajernya.
“Siap, bos. Lu tenang aja, gue udah atur semuanya. Beres dah”
Seorang lelaki kekar masuk ke kamar Abdan, dengan cekatan dia mengangkat barang bawaan bos-nya dan memasukkannya ke bagasi mobil. Tak berapa lama, mobil taft hitam metalik itu meninggalkan rumah besar dan keluar dari pekarangan luas. Meluncur menuju bandara internasional Soekarno-Hatta.

Balikpapan, Oktober 2010
Diah memacu kencang kendaraan roda duanya, membelah jalan raya Sudirman. Di sebuah masjid raya, akan ada parade wisata buku serta pembukaan taman bacaan dan dongeng untuk anak-anak jalanan. Proyek yang dia ajukan sejak dua tahun lalu itu, baru ketok palu di DPRD dua bulan lalu.
Saat roda motornya menginjak area parkir, mata Diah tertumpu pada tenda putih besar dengan berbagai ornamen tanaman dan air terjun. Dekorasi itu hasil kerja keras teman-temannya dari teater “Singgasana Kejayaan”, yang dari dua hari lalu rela begadang hingga nyaris tidak tidur. Mata Diah memanas, sebersit perasaan haru menyelinap dalam hatinya. Sebuah perjuangan panjangnya bersama “kelompok peduli sesama” hampir tergapai, tinggal menunggu realisasi dan kerja yang tanpa batas.
Acara ini dibuka oleh walikota Balikpapan dan mendapat respon yang sangat baik dari warga. Tak sia-sia tim publikasi mendesign spanduk, reklame dan iklan penyelenggaraan acara melalui radio dan media cetak lokal dengan ide-ide yang atraktif dan padanan tampilan yang kreatif.
Di akhir kalimat sambutannya, bapak walikota memberi apresiasi yang sangat besar pada penyelenggara acara dan berjanji akan memberi dukungan dan bantuan yang diperlukan, agar proyek yang akan mengubah peradaban dari skala kota Balikpapan itu dapat berjalan lancar. Mata Diah berbinar selama berlangsungnya prosesi formal tersebut. Setelah itu, seluruh pengunjung dipersilakan menikmati setting menarik dengan tema taman bunga itu. Mulai dari arah kanan pintu masuk, sebuah taman sakura yang di bawahnya mengalir sungai kecil, bunga-bunga sakura yang bergoyang-goyang lembut serta semburan halus salju tipis yang dibuat dari gabus putih yang dihancurkan. Ada juga air terjun yang di desain dari kain-kain putih yang menjuntai dari atap tenda hingga bawah, di balik kain itu ada kipas angin yang membuat kain melambai dan di pasangkan backsound suara gemericik air yang jatuh. Di setiap setting tempat, ditempatkan rak-rak buku yang terbuat dari bamboo kuning, di atasnya dipajang berbagai buku yang bisa dibaca di tempat yang diinginkan pengunjung. Tersedia pula kursi-kursi kecil serta pemadani besar yang dihamparkan untuk pengunjung membaca buku pilihan mereka.
Diah menghela napas lega. Semua berjalan sesuai yang dibayangkan. Alhamdulillah.

Makasar, Oktober 2010
Pesawat Airbus A330-300 milik maskapai penerbangan terkenal mendarat dengan mulus di bandara Hasanuddin, Makasar. Abdan merapikan jaket dan menyelempangkan tas kecil miliknya. Sementara Pompom mengaktifkan ponselnya begitu pesawat berhenti sempurna dan langsung menghubungi panitia penjemputan Abdan.
“Gimana, Pom?” Abdan melirik Pompom yang sibuk pencat-pencet hp dengan gusar.
“Gila ni orang-orang. Pada ngumpet di mana sih? kok kata jeng Vero gak ada jaringan gitu” Pompom menggerutu sambil mencoba menerobos antrian penumpang maskapai yang pelan-pelan berjalan menuju tangga turun pesawat.
Sebagian penumpang ada yang terdesak sampai terduduk di kursi, tapi ada pula yang tiba-tiba menyahut sewot.
“Sabar dong, mas. Lu kira ni jalanan pesawat nenek moyang lu”
Alih-alih Pompom mengkeret, dia justru tambah sok berkuasa.
“Maap ye, permisi lu pada. Gua sama artis gue mau lewat”
Abdan hanya pasang tampang penuh senyum, berharap dengan wajah tenar-nya orang-orang akan mengalah dan membiarkannya keluar duluan. Memang benar, diprakarsai seorang ibu yang nge-fans berat padanya dan berharap Abdan bisa diper-mantu-nya, si ibu sigap membuka jalan untuk Abdan dan Pompom.
“Iya, bapak-bapak ibu-ibu, biar mas ganteng ini keluar duluan. Mungkin dia lagi buru-buru karena mau konser” si ibu mengerling pada Abdan dengan tatapan dan gaya tubuh yang agak ganjen.
Abdan meringis saat mendapat cubitan di pipi tembamnya. Tak ingin buang waktu, Abdan langsung ngacir dan turun dari pesawat sesegera mungkin.

Samarinda, Akhir Oktober 2010
Sebuah email masuk pada inbox Amel. Seketika dia melonjak girang dari kursinya. Di ambilnya post note di sebelah laptop dan menuliskan sebuah nama dan nomor telepon. Akhirnya, kabar yang sudah lama dinantinya datang juga. Penyanyi terkenal itu bersedia mengisi acara “mid night rendezvous” yang dirancangnya dengan tim fans club Abdan dan dibantu oleh event organizer-nya.
“Tiniiiii” suara ceria Amel memecah keheningan ruang kantornya.
Tini yang asik cekakak cekikik di depan kantor sama tukang siomay keliling, mendadak terdiam. Segera diambilnya langkah secepat kilat demi memenuhi panggilan si empunya suara.
“Ya, mbak” Tini muncul dengan napas tersengal.
“Mereka approve, say. Kamu segera book tempat di hotel Mesra dan aku akan konfirmasi ke semua sponsorship” wajah Amel girang.
Berita itu disambut senyum Tini yang sangat merekah. Diam-diam hatinya bersorak lebih heboh dari ekspresi Amel. “Akhirnya, aku bisa ketemu sama idolaku”.
“Tini, ngapain kamu masih di situ? Buruaaan!!! kita lagi rebutan tag sama EO lain” Amel membuyarkan sketsa bahagia yang tergambar dalam benak Tini.
“Eh iya, mbak. Laksanakan segera” lalu kakinya lincah menuruni tangga menuju ruangannya.

Balikpapan, Desember 2010
Suasana airport ramai. Diah ada di antara para penjemput di depan pintu terminal kedatangan. Kepalanya celingak celinguk mencari sosok ustadzah Maimun, yang datang dari Jakarta. Rencananya ustadzah tersebut akan mengisi renungan akhir tahun di majelis taklim ibu-ibu dan remaja putri di masjid raya. Kebetulan Diah didaulat untuk menjemput ustadzah Maimun.
Tak jauh di belakang Diah, segerombol orang dengan kostum hitam dan bertuliskan “Fans Club Abdan Kaltim” tampak membawa spanduk kecil berisi tulisan-tulisan yang eye catching. Ada juga spanduk panjang dengan kalimat “WELCOME TO BALIKPAPAN-PINTU GERBANG KALIMANTAN TIMUR. ABDAN WE LOVE YOU. FANS CLUB ABDAN”
Sebagian dari mereka adalah remaja putri yang dengan tampang deg-degan menanti dengan sabar sosok idola keluar dari pintu kedatangan. Diah memilih menjauh dari gerombolan itu dan menunggu di dekat tiang bangunan airport yang berdiri tegak dengan ornamen ukiran kaltim. Matanya tak lepas dari pintu keluar penumpang, dan saat wanita bergamis dengan jilbab menutup dada tampak berjalan keluar pintu kedatangan sambil menyeret kopernya, Diah segera menghampirinya. Wajah itu sudah tak asing baginya. Setiap pagi di layar televisi, ibu dan dia selalu menyaksikan tausyiah dari ustadzah beranak lima dan istri dari seorang ustadz yang juga pentolan partai islam. Ketika jarak antara Diah dan sang ustadzah tak lagi jauh, Diah segera melebarkan senyumnya dan menyapa wanita itu.
“Assalamu’alaikum, ustadzah. Saya Diah, dari majelis taklim Humaira” Diah menjabat erat tangan hangat ustadzah.
Wanita di hadapan Diah, kini sumringah. Balutan baju takwanya semakin menampakkan kesan anggun dan kharismatik. Belum lagi Diah mengajak ustadzah Maimun keluar terminal kedatangan, sosok idola itu muncul. Sontak saja kumpulan remaja yang semula berbaris rapi di dekat pembatas area tunggu kedatangan domestik berhamburan mendekat untuk menyambut penyanyi asal ibukota itu. Membuat Diah dan uztadzah Maimun tergeser dengan kasar dari kerumunan yang lain. Diah segera menggandeng tangan ustadzah dan membawa beliau menepi. Wajah Diah berubah merah, rasanya ingin dengan segera dia memarahi para penggemar yang tak lagi mampu terkontrol dengan baik, meskipun barisan bodyguard sudah membuat human border untuk sang penyanyi.
“Itulah ukhti, problematika remaja sekarang. Tugas kita bersama untuk merubah gaya hidup hedonis yang terlalu gampang menyandangkan status idola pada manusia, sampai lupa bahwa bahwa tindakan mereka sudah masuk kategori syirik” tiba-tiba saja ustadzah Maimun membuka suara.
***
Abdan melangkahkan kaki menuju ruang kedatangan. Menunggu Pompom yang sibuk mengangkat barang-barang bawaan mereka dari bagasi. Beberapa bodyguard dan tim penjemput yang disiapkan panitia sigap membantu Pompom. Saat semua selesai, mereka bersiap keluar dengan kawalan human border dari beberapa lelaki bertubuh kekar.
Dari dalam ruang kedatangan, Abdan sudah dapat menyaksikan sekumpulan remaja yang membawa spanduk sambil mengelu-elukan namanya dengan histeris. Pemandangan yang sudah biasa ditemuinya sejak, albumnya meledak di pasar nasional dan internasional, serta gelar penyanyi muda berbakat yang belakangan diraihnya. Begitu dia dan rombongan keluar pintu, para remaja itu berebut ingin menyalami Abdan, seolah tak menghiraukan penjemput lain yang juga sejak tadi menanti sanak saudara mereka.
Dari balik badan-badan kekar pengawalnya, Abdan melambaikan tangannya pada para gadis yang tak berhenti berteriak memanggil namanya, sambil membetulkan letak kacamatanya. Saat histeria itu terus berlangsung, Abdan mendapati pandangan kurang suka dari gadis berjilbab yang tengah menggandeng seorang ibu. Kendati begitu, dalam mata gadis itu Abdan temukan tatapan yang sangat ironi dengan teriakan sanjung puji dari orang-orang yang mengepungnya.
Tatapan gadis itu dan Abdan berhadapan. Seketika dalam hati Abdan muncul desiran halus. Namun gadis ayu itu segera berlalu menggandeng wanita setengah baya yang tadi berdiri di sampingnya. Sepertinya Abdan sangat mengenal wajah wanita yang mengenakan paduan gamis polos dan jilbab dengan motif bunga-bunga kecil itu. Ingatannya berputar dengan gesit, hingga tibalah dia pada sebuah acara talkshow “remaja muslim dengan prestasi segudang” yang pernah dihadirinya. Ibu itu, salah satu nara sumber yang duduk persis di samping dirinya saat itu. Ya, tidak salah lagi, itu pasti ustadzah Maimun. Pribadi kharismatik dan sangat ke-ibu-an yang membuat Abdan dapat melihat dengan jelas bayangan tentang “ibu” yang selama ini hanya ada dalam dinding khayalnya.
“Pom, lu kejar cewek sama ibu yang pake jilbab itu. Cepetan!!!” Abdan menepuk pundak Pompom berulang kali dengan cepat dan keras.
“Kenapa sih, Dan?” Pompom masih tak paham dengan instruksi yang baru saja diterimanya.
“Jangan banyak tanya lu, ayo kita kejar” Abdan menarik tangan Pompom dan mengajaknya berlari.
Jelas saja perbuatan Abdan membuat para bodyguard dan fans Abdan kaget bercampur heran. Tak ingin dikira melalaikan tugas, para lelaki yang semula membantuk garis batas itu berlari mengikuti Abdan, dan terjadilah aksi kejar-kejaran di koridor bandara yang penuh dengan manusia. Gambaran persisnya, seperti adegan dalam sinetron.
***
Diah pasang ancang-ancang setengah berlari, saat sebuah suara nyaring menguak kerumunan orang.
“Bu, tunggu!!!” Abdan yang tadi berada di tengah kepungan pengawal itu sekarang berada tak jauh darinya.
Sebenarnya Diah tak ingin merasa ke-geer-an, bahwa dia yang dimaksud. Tapi tangan ustadzah Maimun menahan dirinya untuk beranjak menjauh.
“Assalamu’alaikum, bu” padangan Abdan tertuju pada ustadzah Maimun. Tatapannya penuh takjub, karena bisa bertemu dengan wanita yang meninggalkan bekas sangat dalam sejak pertemuan pertama kali mereka.
“Wa’alakumsalam” ustadzah Maimun tersenyum ramah. Sementara Diah hanya memandang Abdan dan wanita di sebelahnya itu bergantian, membuat garis tanya dalam hatinya semakin panjang.
“Masih ingat saya, bu? Saya pernah satu sesi dengan ibu dalam acara talkshow remaja di Kebayoran Lama”
“Jelas saya tidak bisa lupakan itu. Bahkan selalu ada dalam ingatan saya. Kamu kan sangat istimewa, nak” Ustadzah Maimun tak melepaskan lengkung di wajahnya. Membuat Abdan yakin bahwa ucapan ustadzah sangat tulus, hingga membuat dirinya merasa sangat berharga. Inilah kali pertama dia mendapat hakikat dari keberadaannya sebagai seorang manusia.
Pertemuan siang itu cukup singkat. Setelah Abdan mendapatkan nomor ponsel ustadzah Maimun, mereka segera berpisah. Sebab setelahnya, Abdan langsung di bawa menuju Samarinda untuk mengisi acara jumpa fans sekaligus perayaan tahun baru di salah satu hotel di sana. Sedangkan ustadzah Maimun menjadi pemateri dalam renungan akhir tahun yang dihadiri oleh ibu-ibu majelis taklim dan remaja putri di Balikpapan.

Samarinda, malam penguhung tahun 2010
Acara malam itu berlangsung meriah. Di panggung yang dipenuhi hiasan akhir tahun itu berdiri seorang penyanyi terkenal yang jadi idolanya. Tini memandang takjub ke arah Abdan, matanya enggan untuk berkedip. Tak ingin melewatkan setiap detik penampilan Abdan.
Saat Abdan turun panggung, Tini segera menghampirinya dan memberikan air mineral beserta handuk kecil. Padahal hal itu biasanya dilakukan Pompom. Abdan heran, memandang berkeliling mencari sosok gempal manajernya di tengah kerumunan panitia, tapi tak ditemukannya.
“Cari Pompom ya, mas? Dianya lagi ke kamar, mau ngambil apaaaa gitu” Tini dapat menebak siapa yang dicari Abdan.
Abdan membulatkan mulutnya dan mengambil handuk dari tangan Tini.
“Mas Abdan kok kalau konser nggak pernah bawa pacarnya?” Tini bertanya menyelidik. Dalam hatinya berharap jawaban Abdan sesuai inginnya.
“Saya nggak punya pacar, mbak” Abdan tertawa sambil menjawab pertanyaan yang diajukan Tini, membuat hati Tini berbunga.
“Tapi, do’ain aja supaya saya dapet istri yang baik”
“Istri?” kalimat Abdan itu membuat kening Tini berkerut.
“Iya, istri. Dan kayaknya saya sudah dapat yang cocok di hati” kali ini Tini bungkam menutupi hatinya yang mendadak basah.

Balikpapan, Nopember 2011
Arena parkir Balikpapan Sport and Convention Centre penuh. Di dalam gedung dengan atap seperti kubah masjid yang dilapisi warna keemasan itu tengah berlangsung pameran Art and Creativity Product. Dalam acara itu dipajang dan ditampilkan berbagai macam hasil karya dari anak jalanan, pemulung serta remaja-remaja yang selama ini sangat terpinggirkan dan kurang mendapat perhatian khusus dari masyarakat. Diah ada di antara mereka. Kali ini, dia adalah project director untuk acara yang digelar oleh Kelompok Peduli Sesama selama sebulan penuh itu. Saat Diah sibuk berjalan berkeliling ke setiap stand dan menyapa beberapa peserta pameran, ponsel yang menggantung di lehernya berbunyi. Meskipun suara hp-nya nyaris kalah dengan gema sound system yang mengiringi acara, Diah dapat merasakan ponsel itu bergetar.
“Assalamu’alaikum” Diah menjawab panggilan di telepon genggamnya sambil berjalan keluar gedung untuk menghindari suara bising yang memenuhi gedung.
“Wa’alaikumsalam. Diah, saya bu Maimun dari Jakarta. Apa kabar, ukhti? suara di seberang sana menyahut dengan lembut.
Diah mengerutkan keningnya sejenak, lalu tersenyum.
“Iya ustadzah, Alhamdulillah ana bi khoir”
“Diah sedang sibuk? Saya mau bicara sebentar. Ingin menyampaikan amanah dari seseorang.”
“Insya Allah saya tidak terlalu sibuk, ustadzah. Silakan saja disampaikan”
“Ukhti, apakah anti siap menikah? Karena seorang ikhwan meminta saya menanyakan ini pada anti dan sebenarnya dia juga sudah menunjuk anti. Meskipun belum lama tarbiyah, tapi saya sudah menyaksikan bagaimana progress beliau. Insya Allah hanif dan soleh. Suami dan saya malah berpendapat bahwa kehadiran anti sebagai istri dapat menguatkan beliau”
Diah masih diam, mendengarkan dengan seksama setiap pemaparan yang disampaikan ustadzah Maimun. Meskipun tak dapat dipungkiri, berita ini sangat mengusiknya. Membuat hatinya gusar dan bingung untuk bertindak dan berkata.
“Anti boleh pikirkan dulu dengan tenang dan segeralah beristikharah” seperti tahu bagaimana keadaan hati lawan bicaranya, ustadzah Maimun segera menutup pembicaraan dan memberi waktu pada Diah untuk menemukan jawaban.

Januari 2012
Serbuan wartawan dan juru berita mengepung Diah yang baru saja keluar dari masjid raya.
“Mbak bener ya, kalo sejak setahun lalu mbak sudah punya hubungan khusus dengan mas Abdan? Dimana dan gimana proses ketemunya?”
Diah gerah. Namun senyumnya tetap terkembang. Dengan sabar diladeninya setiap pertanyaan yang meluncur tajam dan terkesan menyudutkannya dan Abdan.
“Saya tak akan menutupi sedikitpun dari apa yang sebenarnya terjadi. Hanya saja saya juga ingin agar statemen saya ini disampaikan dengan sebenar-benarnya oleh teman-teman wartawan” Diah menarik napas dalam sebelum memulai penjelasannya. Bismillah…
“Akhir tahun 2010 saya pertama kali ketemu mas Abdan di airport Sepinggan. Kondisinya, mas Abdan baru tiba dari Jakarta untuk mengisi perayaan tahun baru di Samarinda, sementara saya menjemput ustadzah yang datang dari Jakarta juga. Setelah itu saya tak pernah bertemu mas Abdan hingga akhirnya kami menikah di akhir tahun 2011. Dari perkenalan hingga proses menikah, kami dimediasi oleh ustadz Ma’arif dan istrinya, ustadzah Maimun”
“Jadi, nggak pake pacaran mbak?” seorang wartawan infotainment tersohor mencoba memancing Diah. Tapi pertanyaan itu dijawab gelengan tegas dan senyum oleh Diah.
“Beberapa bulan belakangan sampai berita pernikahan mbak dan mas Abdan tercium media, kan mas Abdan seperti menghilang. Bahkan ada yang bilang bahwa semua itu terkait dengan tuntutan mbak yang ingin mas Abdan meninggalkan dunia nyanyinya. Itu gimana mbak?” seseorang yang lain tak mau berhenti mencari celah yang dapat memunculkan berita heboh dan menaikkan ratting acaranya.
“Untuk itu biar mas Abdan yang jawab” Diah memandang lelaki yang setia berdiri di sampingnya sejak tadi.
“Kalau saya dikatakan menghilang, sebenarnya kurang tepat. Saya masih sering nyanyi dan mengisi beberapa acara, hanya saja sekarang tema-nya bukan lagi tentang cinta yang biasa saya bawakan dulu. sekarang lebih menuju hakikat cinta sesungguhnya. Saya putar haluan ke nasyid, mas. Yah, seperti lagu religi gitu lah, tapi liriknya lebih dalam. Dan kalau ada yang bilang, gara-gara Diah saya meninggalkan profesi dan kehidupan penyanyi saya, itu semua tidak benar. Karena sesungguhnya, dalam setiap kejadian yang saya dan kita alami, selalu ada skenario Allah, dan saya menganggap ini sebagai hidayah” Abdan mengakhiri penjelasannya dengan senyum yang membuat lesung di kedua pipinya terlihat jelas.
“Saya ingin menambahkan. Perubahan yang dialami oleh mas Abdan, saya rasa tidak perlu dispekulasi terlalu panjang. Intinya, kami ingin menjalankan kewajiban yang kami yakini sebagai seorang muslim, sesuai panduan Al Quran dan Sunnah. Kehidupan mas Abdan dan saya, hanya ditujukan untuk mendakwahkan kebenaran dan kebaikan kepada semua orang. Kalau akhirnya ada wacana yang mengatakan bahwa perubahan mas Abdan karena saya, itu berarti kita tengah beradu dengan keyakinan tentang adanya Allah yang Maha menentukan, serta menghujat Allah yang telah menurunkan pentunjuk bagi kita melalui Al Quran, karena sekali lagi, kami telah meyakini sepenuh hati, bahwa jalan kami sesuai dengan apa yang Allah ingin” Diah menggandeng tangan Abdan sebagai tanda bahwa dia ingin segera mengakhiri proses tanya jawab yang mungkin akan berlangsung panjang jika tak segera dihentikan.
Bagi Diah, cukuplah orang-orang yang memang terkait dengan pernikahannya dan Allah saja yang mengetahuinya. Jikapun sekarang dia bersedia dimintai informasi oleh para pemburu berita itu, Diah hanya ingin menjelaskan hal-hal yang memang perlu dan menghapus fitnah yang belakangan merebak dan menembus media cetak dan elektronik di seantero Indonesia.
Diah dan Abdan berjalan menuju kendaraan yang sudah menanti mereka di parkiran masjid. Meskipun para pencari berita itu tak gentar dan terus mencecar mereka dengan berbagai pertanyaan, Diah dan Abdan tetap berlalu dengan sopan.
“Jadi gitu ya mas rasanya dikejar-kejar wartawan?” Diah memandang suaminya dengan senyum menggoda, begitu mereka duduk di jok belakang mobil. Sementara Abdan hanya tertawa tanpa manjawab pertanyaan istrinya.
“Yakin nih, mas. Nggak ada rasa menyesal ninggalin dunia selebritis?”
“Ada hal yang pasti dan patut mas syukuri. Pertama, hidayah Allah yang sudah mas dapat. Dan yang kedua…” Abdan menggantung kalimatnya, membuat Diah memandang ke dalam mata Abdan.
“Kamu. Karena tanpa bimbingan Allah, sudah pasti I’m almost over you, honey” untuk kalimat terakhirnya, Abdan berbisik tepat di telinga istrinya, membuat Pompom yang duduk di belakang kemudi berdehem.
“Maap pak bu, ntu adegan kudu di sensor. Soalnya ada anak di bawah tujuh belas tahun nih” Pompom mengintip Diah dan Abdan melalui kaca spion di atasnya. Serentak tawa ketiganya pecah, lalu mobil taft berwarna hitam metalik itu membawa mereka melintasi jalanan kota Balikpapan yang basah.

(By Era Gobel)

Tetap Lihat Aku



Malam pertama ku langkahkah kaki bulatkan niat
Mengawali keputusan ini dengan bismillah
Untuk pertama kalinya kumulai masuk dalam lingkaran ini
lingkaran yang dulu tak pernah aku terpikir akan jadi bagian dari perjalanan hidupku..
meski berangkat dari sebuah keterpaksaan kondisi
kelelahan hati yang tak kunjung meredam
kekecewaan yang tak pernah terapresiasikan
namun berharap DIA tak melepaskan aku dalam penglihatan-NYA
karena hanya KAU yang MAHA TAHU setumpuk kegelisahan yang ada di segumpal daging ini..

Robbi..
Meski jiwa ini gamang, raga ini takut dengan jalan ini
tapi ku yakin KAU tak akan meninggalkan aku sendiri dalam perjuangan yang baru mulai akan ku yakini...
Jangan pernah tinggalkan aku..

Luruskan niatku Tuhan..
bahwa akan ku mulai semua ini dengan kesadaran tanpa pamrih
bukan karena apa atau siapa..


(By Yeni Tomomi)

Gelap Malam Kerinduan



Malam syurgaku...
Izinkan aku mendongakkan sekilas pandangku ke langit luas-Mu
Dari balkon dingin ne..
Biar sanggup kumenyapa rembulan yang sedang asyik bercanda dengan para bintang-bintang ceria yang sedang bersembunyi dibalik awan gelap itu..
hmm..

Tubuhku berselimut embun dan telingaku dipenuhi romantisme puisi katak dan jangkrik..
Hai langit...
Kapan kau membawaku terbang melewatimu dengan dicengkeram burung menuju singgasana bidadari itu..?
Disaat romantisme alam menarik asaku untuk mengukir kasih sayang disela malam yang penuh Sketsa hati-hati manusia yg haus akan cinta itu .
Namun kurasa, langit malam ini lebih menawarkan kelembutan..
Dengan rembulan sebagai pangeran dan meteor sebagai ratunya,
Lalu para bintang menari berlarian menghiasi angksa dengan senyum cahayanya.
Sejnak terdiam.dan mereka bertanya padaku :

"Lebih sukakah kau melihat langit malam ini daripada bersama manusia?”

dengan senyum kukatakan :

"Kusedang menunggu bidadariku datang menyapaku dari balik awan."

Lalu sang rembulan menjawab "Dia selalu datang di sepertiga malammu,
sapalah mereka dengan sujud kepada Rabb-mu. Sebelum kau menjemput dengan syahidmu ."


dan hidupku menjadi semakin berkesan malam ini..

(By Darkness Prince)

Bisa juga mengenal Prince di http://achadinerz.blogspot.com